Ekonomi Jabar Minus 5,98% Lebih Besar dari Nasional

Siti Fatimah - detikNews
Kamis, 06 Agu 2020 17:01 WIB
Kepala Perwakilan BI Jawa Barat Herawanto
Foto: Siti Fatimah
Bandung -

Perekonomian Jawa Barat pada triwulan 2020 mengalami kontraksi menjadi -5,98%, setelah pada triwulan II-2020 tumbuh melambat sebesar 2,73%. Penurunan pertumbuhan tersebut bahkan lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar -5,32%.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat Herawanto mengatakan, penurunan pertumbuhan terjadi pada komponen pengeluaran sisi permintaan maupun aktivitas sektor-sektor ekonomi.

"Sebagian besar lapangan usaha di Jabar mengalami kontraksi antara lain industri pengolahan, perdagangan dan konstruksi akibat pandemi COVID-19," ujar Herawanto saat ditemui di KPW BI Jabar, Jalan Braga Kota Bandung, Kamis (6/8/2020).

Lebih lanjut ia mengatakan kontraksi pertumbuhan ekonomi yang dialami utamanya bersumber dari melambatnya permintaan global seiring dengan menurunnya volume perdagangan dunia. "Tercermin pasca kontraksi net ekspor yang cukup dalam, penurunan permintaan berpengaruh pada kinerja sektor industri pengolahan yang merupakan sektor dengan kontribusi terbesar di Jabar," ujarnya.

Begitupun dengan permintaan domestik juga mengalami penurunan sehubungan dengan diberlakukannya PSBB di seluruh wilayah di Jabar. Hal tersebut berdampak pada terbatasnya aktivitas usaha formal dan nonformal yang menyebabkan penurunan pendapatan masyarakat sehingga konsumsi menjadi rendah.

"Intinya bahwa kita terus dorong pemerintah daerah untuk sangat peduli dengan penanganan covid ini tetapi regulasi-regulasinya jangan sampai kontraproduktif terhadap pertumbuhan perkembangan ekonomi," tegasnya.

Dia mengatakan, ketidakpastian yang tinggi terkait waktu berakhirnya pandemi COVID-19 juga turut menahan investasi fisik pada triwulan-II-2020. Menurutnya, potensi risiko perekonomian global akibat pandemi perlu segera diatasi, khususnya pada perdagangan luar negeri yang telah terdampak sehingga berimbas pada kinerja industri.

"Selain itu, kami juga mencermati perlunya menjaga daya beli masyarakat untuk mendorong permintaan domestik sebagai menahan pelemahan ekonomi yang lebih dalam, di samping tentunya pemulihan aktivitas ekonomi di berbagai sektor utama," ucapnya.

Perihal ancaman resesi di Indonesia khususnya di Jabar, dia mengatakan, secara definisi resesi terjadi setelah melewati dua kuartal berturut-turut.

"Ini baru satu kuartal yang minus. Kira-kira berapa minusnya, nah ini sangat tergantung karena sangat dinamis. Seperti halnya yang lima persen itu pada saat pengumpulan itu baru ketauan tapi sekali lagi sinyal-sinyal membaliknya pertumbuhan (ekonomi) itu sudah terlihat," pungkasnya.

(ern/ern)