Di Depan Kepala Satgas COVID-19, RK Targetkan 50 Ribu Pengetesan per Minggu

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Kamis, 06 Agu 2020 13:36 WIB
Kepala Satgas penanganan covid di gedung pakuan
Foto: Dony Indra Ramadhan
Bandung -

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengklaim Jabar merupakan daerah paling tinggi dalam melakukan pengetesan PCR kepada masyarakat. Bahkan Jabar menargetkan dapat melakukan pengetesan masif hingga 50 ribu per minggu.

Hal itu diungkapkan Ridwan Kamil di hadapan Kepala Satgas Penanganan COVID-19 Doni Monardo saat mengunjungi Gedung Pakuan, Kota Bandung, Kamis (6/8/2020). Kang Emil, sapaannya, menyebut saat ini jumlah testing di Jabar sudah mencapai 160 ribu.

"Kalau dijumlah, kita ini sudah tertinggi di luar Jakarta. Jakarta karena memang berada sebagai ibu kota, semua logistik kumpul di situ, tapi kalau bapak lihat yang grafik hijau itu kami, per hari ini sudah 160 ribu. Provinsi tetangga Jateng dan Jatim ada di bawahnya, jadi dengan testing yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan provinsi lain tapi angka kasus kami ini relatif lebih rendah," ucap Emil.

Meski sudah banyak dilakukan pengetesan, Emil menyatakan pihaknya akan terus melakukan pengetesan. Bahkan Emil menargetkan 50 ribu testing per minggunya.

"Secara umum, kami ini baru bisa kapasitasnya 5 ribu per hari, jadi kalau dikalikan tujuh hari kurang lebih baru 35 (ribu). Mimpinya sih kalau bisa 50 ribu perminggu atau lebih, kalau di New York sudah 60 ribu per hari. Jadi, problem kita sebenarnya kalau saya urut, kami bercita-cita kapasitas testing kami tinggi mengejar presentase 50 juta manusia yang menjadi takdir yang kami harus kelola," kata dia.

Namun, sambung Emil, ada tiga hal yang disoroti oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Pertama soal kapasitas lab yang sudah mentok, kemudian bantuan mobil PCR dan ada tawaran pihak ketiga untuk melakukan pengetesan.

"Saya mau tanya ini ada tawaran dari pihak swasta. Asalkan Pak Dony BNPB sepakat yaitu pengetesannya oleh pihak ketiga, tinggal kita bayar aja satu kali tes berapa dengan kualitas sama, bedanya mobilnya kita sediakan, jadi kita tidak investasi di peralatan yang kadang butuh waktu dan sebagainya, kita hanya butuh data saja. Nah kalau ini bisa opsi yang ketiga saya kita mengejar 50 ribu per minggu untuk mengejar 1 persen penduduk kami 500 ribu dari 50 juta mungkin bisa tercapai. Itu dari sisi epidemiologi," tuturnya.

Selain soal testing, Emil juga mengatakan saat ini pihaknya fokus untuk melakukan pelacakan. Bahkan dia menyebut akan menggunakan skenario Kopassus dalam hal pelacakan.

"Saya lagi fokus mengejar testing terus rasio lacak juga kami belum bagus karena semangat mulai agak turun di mana-mana. Makanya saya bilang ke Pak sekda kita bikin ala Kopassus aja, tim lacaknya dibayar oleh provinsi tidak usah ngandelin kota dan kabupaten, sebanyak-banyaknya kita bayar supaya kalau satu positif minimal 20 rasio orang yang harus dites, dicari itu bisa kita kejar, nah kami lagi berjuang di sisi keilmiahan di rasio lacak dan testing, walaupun kalau secara total kita sudah tertinggi di luar Jakarta dan ekonomi juga sedang kita gerakkan. Doakan kami untuk bisa terus mengendalikan," ujarnya.

(dir/ern)