Penipuan Paket Kurban 'Big Boss' di Sukabumi Capai Rp 11 Miliar

Syahdan Alamsyah - detikNews
Kamis, 06 Agu 2020 13:06 WIB
Ilustrasi Subsidi Bunga
Ilustrasi uang (Foto: shutterstock)
Sukabumi -

Nilai kerugian korban investasi bodong paket kurban Big Boss Cianjur di Sukabumi terus bertambah. Di Polres Sukabumi Kota, tercatat kerugian korban Rp 11,5 miliar.

Jumlah itu bersumber dari pengadu 5 orang berstatus ketua dengan 130 orang nasabah atau konsumen dan 9 orang reseller dan 6 orang nasabah.

"Ketua paket juga mengadukan kerugian, mereka berjumlah lima orang dan memiliki 130 nasabah atau konsumen merugi sebesar Rp 7 milyar lebih dan reseller sebanyak 9 orang total kerugian Rp 3.921.459.000,- dan terakhir nasabah 6 orang dengan kerugian Rp 350.330.000," kata Kapolres Sukabumi Kota AKBP Sumarni, Kamis (6/8/2020).

Polres Sukabumi Kota sendiri gencar membuka posko pengaduan investasi paket diduga bodong tersebut, 15 Polsek yang ada di wilayah hukumnya membuka posko pengaduan untuk memudahkan korban melaporkan kerugian yang dialami untuk kemudian dikoordinasikan dengan Polres Cianjur.

"Korban tersebut melapor ke tiga posko pengaduan yang dibentuk Polres Sukabumi Kota dan tiap Polsek di wilayah hukum Polres Sukabumi Kota. Untuk kerugian Rp 11 milyar lebih tersebut korban melapor ke Polres langsung, Polsek Sukalarang dan Polsek Cirenghas. Selanjutnya kami koordinasi dengan Polres Cianjur," jelas Sumarni.

Sementara itu, Fi salah seorang korban investasi bodong mengaku keberatan ketika ketua paket tiba-tiba berstatus korban dalam permasalahan tersebut. Menurutnya ada beberapa ketua yang menikmati bonus dari perbuatannya.

"Ketua itu korban yang paling enak mereka merasakan bonus umroh berlian dan lain-lain. Sekarang tiba-tiba mengaku korban padahal dulu kalau ada yang telat bayar (paket) merong-merong kayak kesetanan," ungkap Fi.

Fi juga menyesalkan para ketua yang dianggap lalai karena tidak menganalisa perusahaan terlebih dulu. Karena menurutnya hanya ketua yang berhubungan langsung dengan big boss.

"Kenapa ketua mengaku korban? KTP big boss saja mereka enggak tahu. Bahkan ada ketua yang bilang mengajak (ikut investasi) enggak padahal selebaran brosur itu apa, kan mereka yang mengeluarkan plus bonus pemasaran untuk mereka," ucap Fi.

Meskipun begitu Fi juga mendukung ketua untuk melapor karena nanti akan terungkap semua permainan investasi tersebut. "Dari HA ini harganya (paket) murah, namun dinaikkan berlipat oleh para ketua. Akan ketahuan ketika disingkronkan nilai kerugian di posko pengaduan dengan pengakuan HA. Mungkin kata HA "teuing urang mah teu narima duit sakitu" (Enggak tahu saya tidak menerima uang segitu). Ketua melapor ke polisi sama aja membuka aib sendiri," pungkas Fi.

(sya/mud)