Aksi Pamer Alat Vital di Bandung, Sapa Institute: Kekerasan Seksual

Muhammad Iqbal - detikNews
Selasa, 04 Agu 2020 19:42 WIB
Pria di Kabupaten Bandung pamerkan alat vital
Pria Bandung pamer alat vital (Foto: Tangkapan layar video viral)

Kasus seperti ini marak terjadi bukan hanya di perkotaan melainkan pedesaan dengan akses informasi terkait kekerasan seksual yang rendah. Kemudian, kejadian serupa bisa terjadi kepada siapa saja dan di mana pun. "Di kostan, jalanan, kendaraan umum. Atau tempat-tempat umum lainnya yang menurut mereka (pelaku) strategis untuk mendapatkan korban," katanya.

Namun bila melihat segi hukum pidana, kata Sri, perbuatan yang dilakukan pria tersebut tidak masuk dalam tindak asusila melainkan hanya sebatas perbuatan tidak menyenangkan yang meresahkan warga.

"Namun sayangnya dalam KUHP itu belum diatur karena hanya dikenal dua bentuk tindak asusila yaitu pemerkosaan dan pencabulan. Dan kasus ini tidak masuk ke dalam dua kategori ini. Makanya perlu ada UU Penghapusan Kekerasan seksual sebagai rujukan untuk proses pemidanaan kasus ini," ucap dia.

"Karena kalau pun dipaksakan dengan UU yang ada, dia hanya masuk kategori sebagai perbuatan tidak menyenangkan yang menyebabkan keresahan publik," imbuhnya.

Meski demikian, menjadi perhatian penting pula yakni pemulihan korban yang mengalami kekerasan seksual. Di mana, korban mestinya mendapatkan pelayanan konseling agar kembali pulih dari traumanya.

"Harusnya korban mendapatkan pemulihan atau konseling untuk menumbuhkan keberanian agar terbuka untuk melaporkan kejadian tersebut. Kalau untuk melupakannya tidak mungkin karena itu akan terus diingat," ungkapnya.

Selain itu, ia pun berharap agar pihak kepolisian mampu mengamankan pelaku kekerasan seksual tersebut. Karena, pelaku masih berkeliaran dan akan memunculkan korban baru.

"Kepolisian harus memproses secara hukum pelaku tersebut dan melakukan edukasi kepada masyarakat agar mau melaporkan apabila menjadi korban atau melihat pelaku," pungkasnya.

Halaman

(mud/mud)