Aksi Pamer Alat Vital di Bandung, Sapa Institute: Kekerasan Seksual

Muhammad Iqbal - detikNews
Selasa, 04 Agu 2020 19:42 WIB
Pria di Kabupaten Bandung pamerkan alat vital
Pria Bandung pamer alat vital (Foto: Tangkapan layar video viral)
Bandung -

Seorang pria pengguna motor tiba-tiba memamerkan alat kelaminnya di depan dua orang perempuan dan satu anak lelaki di Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung. Aksi tersebut dinilai sebagai kekerasan bukan kelainan seksual yang mesti dapat dihukum.

Sebelumnya, pada pekan lalu (28/7/2020) seorang warga perempuan (25) ditemani keponakan perempuan sedang merekam kegiatan olah raga anaknya di lapangan. Seorang pria tidak dikenal tiba-tiba muncul dan mengarah ke lapang setelah memarkirkan motor bebeknya.

Awalnya mereka mengira pria tersebut akan buang air kecil. Namun semenit kemudian, pria tersebut justru mengarahkan alat kelamin kepada mereka. Sontak mereka pun kaget dan memutuskan untuk merekam aksi pria tersebut.

"Saya sama anak-anak mengiranya mau pipis. Tahu-tahunya gesek-gesek alat kelaminnya. Terus gak lama malah gitu (memamerkan alat kelamin)," katanya.

Ketua Pengurus Sapa Institute Sri Mulyati mengatakan, aksi yang dilakukan pria misterius tersebut tidak semerta-merta dianggap sebagai kelainan seksual. Ia menilai perilaku tersebut merupakan bentuk kekerasan seksual yang dapat diterapkan hukuman kepada pelakunya.

"Kalau saya tidak sepakat ini sebagai kelainan seksual, tapi lebih sepakat dikategorikan sebagai kekerasan seksual. Ini kategorinya sebagai bentuk kekerasan seksual yang jenisnya pelecehan seksual," kata Sri saat dihubungi melalui pesan singkat, Selasa (4/8/2020).

Menurutnya, apabila kasus tersebut dinilai hanya sebatas kelainan seksual maka disimpulkan pria tersebut memiliki penyakit. Namun, apabila dikategorikan sebagai kekerasan seksual, maka perlakuan yang dilakukan pria misterius tersebut dapat dinilai sebagai tindak pidana.

"Karena kalau disebut sebagai kelainan seksual hanya dianggap sebagai penyakit dan tidak berkonsekuensi bahwa pelakunya harus dihukum,"

"Tapi kalau dikategorikan sebagai kekerasan seksual maka dia sudah melakukan tindak pidana dengan unsur melakukan pelecehan seksual dan ada kesengajaan melakukanya. Sehingga harusnya bisa dihukum atas tindakan yang dilakukannya," paparnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2