Pemburu di Sanggabuana Juga Tembak Mati Rusa dan Owa Jawa

Luthfiana Awaluddin - detikNews
Selasa, 28 Jul 2020 17:39 WIB
Bangkai rusa betina yang ditembak pemburu gelap di Sanggabuana
Bangkai rusa betina yang ditembak pemburu gelap di Sanggabuana (Foto: Istimewa)
Karawang -

Sejumlah satwa endemik di Pegunungan Sanggabuana, Karawang terancam aksi pemburu gelap. Selain menembak macan pada bulan Mei, pemburu juga dikabarkan menembak mati seekor rusa betina (Cervus Timorensis).

"Selain menembak seekor macan, pemburu itu juga menembak seekor rusa di wilayah Sanggabuana," kata Bernard T Wahyu Wiryanta Ketua ekspedisi Sanggabuana Wildlife Expedition kepada detikcom, Selasa (28/7/2020).

Saat ekspedisi pada 15-22 Juli 2020, Bernard mendapat kesaksian dari seorang tentara yang memergoki aksi pemburu gelap tersebut pada Mei 2020. "Tentara itu langsung marah ketika melihat beberapa orang pemburu menggotong bangkai macan dan rusa," ujar Bernard.

Bernard menuturkan tentara itu tak habis pikir pemburu berani menembak mati macan dan rusa. Padahal kedua binatang itu jelas-jelas sudah langka dan harus dilindungi.

"Kita juga diberi bukti foto bangkai hewan yang ditembak pemburu itu," kata Bernard.

Seorang saksi juga mengaku pernah memergoki pemburu menembak Owa Jawa (hylobates moloch)."Sejumlah warga di sekitar Sanggabuana melaporkan jika Owa Jawa sering ditembak. Bahkan ada yang menyaksikan pemburu menembak mati induk Owa yang sedang menggendong bayinya," tutur Bernard.

Bernard bercerita, setelah menembak induk Owa tersebut, pemburu gelap itu pensiun karena sadar telah berbuat keji.

"Setelah ditembak, induk Owa itu menangis, menyimpan anaknya di ketinggian pohon, lalu turun pelan-pelan hingga akhirnya terjatuh dari pohon. Tak lama kemudian induk Owa itu tewas," tutur Bernard.

Bernard bercerita, setelah melihat cara induk Owa meletakkan anaknya sebelum mati, pemburu itu dikabarkan terharu dan ikut menangis. "Pemburu itu langsung memutuskan pensiun. Induk Owa itu jadi korban terakhirnya," kata Bernard.

Usai mendengar berbagai kesaksian warga soal aksi pemburu di Sanggabuana, kata Bernard, tim makin semangat masuk ke pedalaman hutan. Tim memetakan habitat hewan endemik dan wilayah-wilayah rawan pemburu di sana. Ditemukan fakta jika sebagian wilayah aman dari pemburu.

"Di beberapa lokasi gunung di jajaran pegunungan Sanggabuana aman dari pemburu karena peran Denharrahlat (Datsemen Pemeliharaan Daerah Latihan) Kostrad Sanggabuana yang menjaga hutan dari para pemburu," kata Bernard.

Di hari ketujuh, tim menemukan jejak kaki macan, bulu macan yang tertempel di dedaunan juga bekas cairan urin macan. Di hari yang sama, tim dikagetkan oleh seekor babi hutan yang sedang berlari dari atas bukit,

"Saat melihat ke atas, kami melihat seekor macan kumbang berwarna hitam. Kemungkinan macan kumbang itu yang babi hutan tersebut," ungkap Bernard.

Dalam ekspedisi selama delapan hari itu, tim berhasil mendokumentasikan sejumlah hewan diantaranya Owa Jawa (Hylobates moloch), Surili (Presbytis comata), Lutung Jawa (Trachypitecus auratus), Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis).

Tim juga berhasil memotret Rangkong Julang Emas (Rhyticeros undulatus), Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) dan Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus).

Tim juga bertemu dengan Macan Kumbang (panthera pardus melas), namun tak sempat terpotret. "Kita mencetak jejak kaki macan menggunakan gypsum. Sisa bulu juga kita kirim ke lab untuk dites DNA," tutur Bernard.

(mud/mud)