Tragis! Macan Tutul Penghuni Pegunungan Sanggabuana Ditembak Mati Pemburu

Luthfiana Awaluddin - detikNews
Senin, 27 Jul 2020 16:25 WIB
Macan tutul di pegunungan Sanggabuana ditembak pemburu gelap
Foto: istimewa
Karawang -

Pegunungan Sanggabuana merupakan satu-satunya pegunungan di wilayah Karawang dan pantai utara Jawa Barat. Rupanya, di sana masih terdapat banyak satwa endemik meski sudah langka. Namun sayang, nasib hewan-hewan itu terancam pemburu gelap.

Bernard T Wahyu Wiryanta, seorang fotografer alam liar pernah memergoki seorang pemburu di Gunung Sanggabuana. Diam-diam, Bernard mengikuti pria yang nampak sedang berburu. "Di pundaknya, tergantung senapan panjang. Itu senapan dorlok," kata Bernard kepada detikcom, Senin (27/7/2020).

"Senjata yang ditenteng pemburu itu adalah model senapan yang dipakai tentara jaman perang sama Belanda dulu," Bernard menambahkan.

Senapan dorlok (didor lalu dicolok) adalah bedil yang dibuat secara tradisional. Populer digunakan saat masa penjajahan Belanda. Mekanismenya masih sederhana, dorlok artinya setelah ditembakkan mesti ditusuk untuk mengeluarkan selongsong kemudian diisi peluru lagi.

"Mekanismenya masih manual, memasukkan mesiu, kemudian pelurunya dari timah di cor, ini kalibernya bisa lebih besar dari AK-47 atau SS1," kata Bernard.

Pemburu gelap bersenjata dorlok, kata Bernard sudah makan korban di Sanggabuana. Seekor macan tutul (Panthera Pardus Melas) pernah ditemukan tewas usai ditembak pemburu gelap.

Macan tutul di pegunungan Sanggabuana ditembak pemburu gelapMacan tutul di pegunungan Sanggabuana ditembak pemburu gelap Foto: istimewa

Aksi pemburu itu, kata Bernard dipergoki oleh tentara. "Salah satu tentara memberi kita laporan bahwa bulan Mei 2020 mereka bertemu pemburu yang habis nembak macan tutul, dan ini fotonya sebagai bukti," ungkap Bernard.

Namun hingga saat ini, kasus pembunuhan seekor macan tutul di Sanggabuana tak diketahui ujungnya.

"Usai menembak macan, pemburu itu diomelin tentara. Sayangnya polhut atau otoritas berwenang lain tak terlihat perannya," ujar Bernard.

Saat ini, kata Bernard tim dan warga setempat masih mengecek keberadaan bangkai macan tersebut. "Kalau ketemu infonya baru kita akan lapor ke Gakkum KLHK untuk disita," kata Bernard.

Pada Rabu dua pekan lalu (15/7), Bernard masuk ke Sanggabuana. Selama delapan hari, ia bersama 14 orang pegiat alam melakukan ekspedisi kehidupan liar di Sanggabuana.

Sanggabuana Wildlife Ekspedition itu dilakukan Komunitas Pendaki Gunung (KPG) Regional Depok yang didukung oleh KPG regional Karawang, KPG regional Bekasi, The Wildlife Photographers Community (WPC), dan tim dari Bara Rimba Karawang.

Dalam ekspedisi itu, tim menemukan, mendata dan mendokumentasikan beberapa satwa langka yang terdiri dari primata endemik, burung, karnivora besar, dan beberapa mamalia serta serangga.

"Tim ekspedisi berhasil menemukan owa Jawa, Surili, dan lutung jawa yang merupakan endemik jawa. Juga macan tutul dan macan kumbang serta elang Jawa," ujar Bernard.

(ern/ern)