Pakai Sistem Drive Thru, 5 Ribu Warga Kuningan Jalani Rapid Test

Bima Bagaskara - detikNews
Selasa, 21 Jul 2020 12:41 WIB
Ribuan warga Kuningan akan menjalani rapid test dengan sistem drive thru
Ribuan warga Kuningan akan menjalani rapid test dengan sistem drive thru (Foto: Bima Bagaskara)
Kuningan -

Pemkab Kuningan melakukan rapid test massal secara acak menyasar ribuan warga. Langkah ini untuk pemetaan penyebaran COVID-19 di wilayahnya.

Menggunakan puluhan mobil COVID-19 test, pelaksanaan rapid massal tersebut dilakukan di 32 kecamatan, 361 desa dan 15 kelurahan secara serentak.

Menariknya pelaksanaan rapid test massal itu menggunakan sistem drive thru. Nantinya mobil COVID-19 test akan langsung mendatangi warga di tiap-tiap desa.

"Nanti mobil covid test datang ke desa melakukan test di sana jadi sasarannya langsung ke masyarakat," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan Susi Lusianti seusai dalam acara pelepasan mobil covid test di Kantor Bupati Kuningan Selasa (21/7/2020).

Susi menuturkan rapid test dengan sistem drive thru baru pertama kali dilakukan dengan tujuan agar tidak menimbulkan kepanikan di masyarakat.

"Jadi kita drive thru agar masyarakat tidak merasa panik. Khawatirnya jika kita kumpulkan di satu tempat dapat menimbulkan kepanikan sekaligus itu juga jadi ada kerumunan massa," lanjutnya.

Menurutnya, Pemkab Kuningan menargetkan 5.000 warga menjalani rapid test massal tersebut.

Ditempat yang sama, Bupati Kuningan Acep Purnama menegaskan rapid test massal dilakukan untuk mengetahui sejauh mana sebaran COVID-19 di wilayahnya.

"Melalui program mobil covid test ini akan bergerak ke 32 kecamatan 361 desa dan 15 kelurahan untuk memastikan sejauh mana sebaran covid ini bisa diukur secara akurat," kata Acep.

Acep juga menekankan agar warga tidak meninggalkan protokol kesehatan di masa adaptasi kebiasaan baru (AKB). Ia mengakui, di masa AKB ini tingkat kesadaran masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan mulai berkurang.

"Dengan suasana pelonggaran aktivitas masyarakat di sektor wisata, ekonomi, termasuk pendidikan di pesantren saya melihat ada penurunan ketaataan masyarakat melaksanakan protokol kesehatan," ungkapnya.

"Jadi masyarakat tidak boleh mengendorkan protokol kesehatan karena itu cara paling sederhana, mudah dan murah dilakukan masyarakat," tegas Acep.

(mud/mud)