Tarif Rapid Test Mahal, Gugus Tugas Bogor: Rumah Sakit Pakai Alat Impor

M Sholihin - detikNews
Selasa, 14 Jul 2020 15:30 WIB
Indonesia Tetapkan Tarif Tertinggi Rapid Tes, Tapi Seberapa Penting Tes Ini?
Foto: ABC Australia
Bogor -

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menetapkan batas atas harga rapid test untuk pemeriksaan virus Corona atau COVID-19 sebesar Rp 150 ribu. Penetapan besaran harga itu disesuaikan dengan harga alat rapid test produk dalam negeri.

Sementara beberapa rumah sakit di Kota Bogor, sampai saat ini masih memasang tarif di atas 200 ribu. Dengan alasan alat rapid yang masih digunakan saat ini merupakan produk impor yang dibeli sebelum penetapan harga oleh Kemenkes.

"Sebelum-sebelumnya kan memang ada rumah sakit-rumah sakit yang mengadakan rapid test, tetapi sebetulnya belum ada komplain soal harga ya, itu yang setahu saya ya. Karena mungkin sejauh ini kan mereka (rumah sakit dan klinik) masih memasang harga 200 sampai 220 ribu, mungkin menurut warga masih normal ya," kata Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kota Bogor Dedie A Rachim, Selasa (14/7/2020).

Dedie menyebut, harga tinggi yang dipasang rumah sakit swasta disebabkan alat rapid test yang digunakan saat ini merupakan produk impor, yang harganya lebih mahal dari produk dalam negeri. Selain itu, rumah sakit juga memasang harga dengan menghitung biaya penggunaan APD dan jasa tenaga medis yang melakukan rapid test.

"Nah yang kita pahami, rapid test yang ada sampai hari ini kan barang import ya kan. (Sebelumnya) belum ada (alat) rapid test hasil bikinan (buatan) dalam negeri, ya kan," kata Dedie.

"Kalau misalnya harga satuannya sudah Rp 160 ribu kan mereka enggak bisa jual harga Rp 150 ribu kan. Karena mereka juga ada biaya tenaga medis yang melakukan proses rapid test," imbuhnya.

Dedie mengaku sangat setuju penentuan batas atas harga rapid test yang dilakukan Kementerian Kesehatan, karena menguntungkan masyarakat. "Kita sih setuju-setuju saja, karena kan ini menguntungkan dan masyarakat juga yang terbantu," ungkap Dedie.

Namun pihaknya akan memaklumi jika masih ada rumah sakit di Kota Bogor yang masih memasang tarif diatas batas atas yang ditentukan pemerintah.

"Tetapi kita juga akan memahami ya, kalau ada rumahsakit yang istilahnya ingin mengabiskan stok dan menetapkan harga diatas ketetapan Kemenkes itu hingga bulan Juli, kita masih memaklumi ya. Masih bisa ditolelir yah, bahasanya begitu," sambungnya.

(ern/ern)