Jabar Hari Ini: Almarhum Hilmi Aminuddin Positif Corona dan Kabar Kades Jual Sekolah

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 01 Jul 2020 19:37 WIB
Ustaz Hilmi Aminuddin (Antara)
Foto: Ustaz Hilmi Aminuddin (Antara)
Bandung -

Kabar duka masih menyelimuti dunia perpolitikan Tanah Air, setelah salah satu tokohnya Ustaz Hilmi Aminuddin meninggal dunia. Kematian perintis Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menimbulkan pertanyaan, pasalnya ia dimakamkan dengan protap COVID-19. Lalu apa yang sebenarnya terjadi?

Ridwan alias Abah (45), pria yang mengaku sebagai dukun, mencabuli gadis SMP berusia 15 tahun di rumahnya, Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Polisi menyita sejumlah barang bukti, salah satunya 'apel jin'.

Jabar Hari Ini menyuguhkan sejumlah berita yang menarik untuk disimak. Berikut ulasannya :

Sekolah Dijual di Garut

Bangunan dan tanah sekolah negeri di Garut diduga dijual oknum kepala desa. Kabar tersebut viral di media sosial dan menjadi perbincangan warganet.

Informasi tentang bangunan dan tanah sekolah yang dijual itu beredar via Facebook. Salah satu penggunanya mengunggah unggahan tersebut pada Selasa (30/6) kemarin.

"MASYARAKAT PEMBELI SUDAH MULAI MENGAMBIL GENTING BANGUNAN SEKOLAH ASET MILIK PEMDA YANG DI JUAL OLEH OKNUM KEPALA DESA JAYAMUKTI KEC CIHURIP," kata pemilik akun dalam unggahannya.

Selain mengunggah foto bangunan sekolah, pemilik akun Facebook tersebut juga mengunggah foto kwitansi pembayaran. Berdasarkan kwitansi tersebut, diketahui bangunan dan tanah desa itu dijual oleh Kepala Desa Jayamukti bernama Hamdani kepada seseorang bernama Abdul Manaf.

Bangunan dan tanah SDN 3 Jayamukti itu diketahui dijual seharga Rp 80 juta pada November 2019 lalu.

Wakil Bupati Garut Helmi Budiman saat dikonfirmasi detikcom, Rabu (1/7/2020) siang membenarkan hal tersebut. Helmi mengatakan, permasalahan tersebut tengah ditangani pihaknya. Kendati demikian, Helmi mengaku akan menindaklanjuti sendiri benar atau tidaknya bangunan dan tanah sekolah itu dijual oleh oknum kades.

"Benar atau tidak harus kita konfrontir. Kita cari tahu kenapa bisa sampai dijual," ungkap Helmi.