Benarkah Bakso Cuanki Kependekan dari Cari Uang Jalan Kaki?

ADVERTISEMENT

Benarkah Bakso Cuanki Kependekan dari Cari Uang Jalan Kaki?

Faizal Amiruddin - detikNews
Sabtu, 27 Jun 2020 21:10 WIB
Pedagang cuanki di pangandaran
Foto: Faizal Amiruddin
Garut -

Bakso Cuanki boleh dibilang telah menasional. Setidaknya pedagang kudapan berupa siomay kering, tahu putih dan baso diguyur kuah gurih ini telah menyebar ke sejumlah daerah.

Bagaimana sejarahnya resep makanan ini? Lalu mengapa pula mayoritas warga asal Garut yang menjadi penjualnya.

"Cuanki itu asalnya dari Bandung. Resep aslinya milik orang Tionghoa. Almarhum bapak saya adalah pegawainya. Pabriknya di Cimahi," kata Itang, penjual sekaligus pengusaha Cuanki di Pangandaran.

Bagi pria asal Kecamatan Singajaya Kabupaten Garut ini, Cuanki telah menjadi bagian dari hidupnya. Hampir semua keluarga dan saudara laki-lakinya berjualan Cuanki, menyebar di berbagai daerah.

Menurut dia, nama Cuanki itu merujuk kepada siomay kering. "Resep aslinya memakai daging babi karena konsumennya warga Tionghoa, kemudian resep itu dimodifikasi, minyak dan daging babi diganti ikan tenggiri," kata Itang.

Dia juga menjelaskan nama Cuanki yang kerap diartikan sebagai kependekan dari cari uang jalan kaki, hanyalah gurauan semata. "Lah itu mah bercanda, Cuanki itu siomay kering," katanya.


Pada dekade tahun 80-an, sejumlah mantan pegawai pabrik Cuanki di Bandung itu kemudian mencoba memproduksi dan berjualan sendiri. Ternyata respons pasar bagus, makanan berkuah itu menjadi alternatif baru diantara mie baso dan mie ayam.

"Almarhum bapak saya namanya Pak Soleh. Kemudian yang lebih terkenal, ada yang namanya Mang Yaya dari Bayongbong Garut. Beliau bos Cuanki pertama asal Garut yang paling kesohor. Generasi selanjutnya ada Mang Toni asal Pameungpeuk Garut. Mang Toni ini asalnya anak buah Mang Yaya," kata Itang.

Pada masa-masa itu Itang mengaku masih anak-anak. Setelah beranjak dewasa dia pun mulai mengikuti jejak bapaknya.

Resep membuat Cuanki menurut dia berbeda dengan siomay untuk batagor atau pangsit biasa. "Cuanki itu harus keras ketika kering dan kenyal ketika disiram kuah panas. Berbeda cara membuatnya dengan pangsit biasa," kata Itang.

Proses penggorengan Cuanki pun menurut dia sangat menentukan kualitas. "Digorengnya harus sampai kering tapi tidak gosong. Kemudian minyak ditiriskan, dengan begitu cuanki akan tahan lama. Bisa kuat disimpan 3 bulan," kata Itang.

Dia sendiri mengaku sudah belasan tahun berjualan di sekitar pantai Pangandaran. "Seporsi saya jual Rp 10 ribu kepada wisatawan, kalau ke penduduk lokal Rp 5 ribu saja," kata Itang.

Bakso cuanki kini tengah jadi perbincangan hangat gegara penjual di Kembangan Jakarta ketahuan meludahi bakso pelanggannya. Penjual yang berasal dari Garut itu mengaku hal itu untuk penglaris. Ia pun akhirnya meminta maaf.

Tonton juga 'Pedagang Cuanki Akhirnya Ngaku Ludahi Pesanan Buat Penglaris':

[Gambas:Video 20detik]

(ern/ern)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT