Satu Kampung di Perkebunan Teh Gununghalu Masih Gelap Gulita

Whisnu Pradana - detikNews
Sabtu, 27 Jun 2020 11:03 WIB
Kampung di gununghalu tanpa aliran listrik
Foto: istimewa
Bandung Barat -

Di zaman serba modern seperti saat ini, nyatanya tak dirasakan puluhan warga di Kampung Garunggang Hilir, RT 03 RW 21, Desa Sirnajaya, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang belum teraliri listrik.

Untuk penerangan, mayoritas warga mengandalkan sumber cahaya dari lilin lantaran tak semua mampu untuk memasang listrik. Jaringan listrik terdekat berjarak sejauh 2 kilometer sehingga untuk mendapat listrik perlu membeli kabel panjang.

Kampung tersebut ada di tengah-tengah perkebunan teh Montaya. Untuk mencapai kampung hanya bisa melalui jalan setapak dengan alas lumpur sembari melewati perbukitan dan hamparan persawahan.

Mayoritas pekerjaan warga kampung merupakan buruh tani dan berladang singkong maupun sereh wangi. Jika siang mereka sibuk menggarap lahan namun saat malam kampung gelap gulita

Jika matahari mulai tenggelam, aktivitas warga kampung hanya berdiam diri di rumah dengan penerangan lilin maupun lampu minyak. Kampung terasa hening tanpa ada suara musik ataupun hiburan dari televisi.

Nanang Abdul Kodir, Ketua RT setempat mengatakan terdapat 16 rumah dihuni 30 kepala keluarga atau sekitar 75 jiwa tinggal di kampung tersebut.

"Ada tiang listrik di kampung sebelah, kurang lebih jaraknya 1,5 kilometer. Kalau nyambung harus modal kabel panjang. Jadi mayoritas warga di sini memilih gelap-gelapan atau paling mengandalkan lilin," tutur Nanang, Jumat (26/6/2020).

Kondisi tersebut telah berlangsung sejak kampung mulai dihuni warga 20 tahun silam. Baru pada dua tahun terakhir, tiga orang warga yang agak mampu mengajukan pemasangan jaringan listrik, akhirnya meteran dipasang di kampung sebelah dan kabel membentang ke perkampungan.

Dengan kondisi ini, warga yang tidak mampu terpaksa 'nebeng' pada meteran orang lain. Pembagian iuran dilakukan dengan musyawarah agar listrik bisa dinikmati sebagai penerangan saja.

"Paling sebagian warga ada yang memaksakan nebeng jaringan listrik, satu lampu bayarnya Rp 15 ribu perbulan ke yang punya meteran, dengan begitu sekarang ada sedikit penerangan tapi belum semua rumah," tuturnya.

Ia mengatakan setidaknya butuh 10 tiang listrik agar jaringan listrik stabil dinikmati warga kampung Cigarunggang Hilir.

"Ya harapannya segera bisa dibantu untuk menyediakan jaringan listrik, kasihan warga. Karena bentangan kabel dari meteran ke kampung cukup panjang, biaya pasti mahal sementara di sini tidak semuanya warga mampu," tandasnya.

Sementara itu Manager Bagian Jaringan PLN UP3 Cimahi Pilih Kondhang Paramarta mengatakan pihaknya akan mengecek terlebih dahulu lokasi kampung di pelosok KBB yang belum mendapatkan aliran listrik tersebut.

"Saya sudah tanya ke Manager PLN Cililin kebetulan belum tahu juga terkait lokasi ini. Jadi rencana nanti kita cek dulu ke lokasi kenapa di sana belum berlistrik," ungkap Pilih saat dihubungi.

Tonton juga 'Warga Daerah Terpencil Ini Berkurang Setengah Gegara Corona':

[Gambas:Video 20detik]

Mengenai pengajuan untuk mendapatkan jaringan listrik, dirinya menjelaskan bisa diajukan secara kolektif dengan rincian jumlah masyarakat yang akan mengajukan.

"Bisa secara kolektif. Khusus untuk perluasan jaringan seperti itu agar di buatkan surat pengantar dari desa, nanti kami bisa realisasikan melalui program Listrik Desa yang ada di PLN atau bisa melalui program dari Dinas ESDM," jelasnya.

(ern/ern)