Ortu di Bandung Protes ke Sekolah, FAGI: Sosialisasi PPDB Kurang Sempurna

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Rabu, 24 Jun 2020 13:44 WIB
Ilustrasi PPDB (Andhika Akbarayansyah)
Foto: Ilustrasi PPDB (Andhika Akbarayansyah)
Bandung -

Sejumlah orang tua siswa protes terkait pelaksanaan penerimaan peserta didik baru (PPDB) di Jawa Barat. Forum Aksi Guru Indonesia (FAGI) menilai protes ortu karena kurangnya sosiisasi PPDB dari pemerintah.

"Jadi ini ada bentuk sosialisasi yang kurang sempurna," ucap Ketua FAGI Bandung Iwan Hermawan saat dihubungi, Rabu (24/6/2020).

Iwan menuturkan sejumlah kasus dalam PPDB yang diterimanya. Seperti adanya calon siswa berkebutuhan khusus yang masuk melalui jalur anak berkebutuhan khusus (ABK) tidak diterima di sekolah negeri.

"Ketika daftar ke sekolah pihak sekolah tidak tahu bahkan dialihkan ke jalur akademik padahal ABK itu tahap dua nanti dengan zonasi. Informasi yang mereka dapat ABK itu sama seperti afirmasi, nah sehingga pada daftar kemarin. Tidak diterima," tuturnya.

Termasuk siswa miskin. Menurut Iwan, ada sejumlah siswa jalur afirmasi juga yang tidak terinput data di PPDB.

"Sehingga dinyatakan tidak ada di PPDB online karena kesalahan upload. Karena informasi," kata dia.

Selain karena kurangnya informasi, Iwan juga menuturkan adanya ketidakpuasan dari para orang tua calon siswa. Para orang tua, ingin anaknya sekolah di sekolahan negeri karena terganjal biaya.

"Ada ketidakpuasan dari mereka karena mereka begini, inginnya yang miskin itu ditampung di sekolah negeri sebagaimana amanat Undang-undang siswa miskin ditanggung negara. Tapi oleh Disdik dilempar pilihan ke tiga ke swasta. Mereka ingin ke negeri karena tidak banyak biaya. Kedua fasilitas lebih lengkap. Jadi orang tidak mampu ingin menikmati sarana dan prasarana lengkap berasal dari bantuan pemerintah. Selama ini sekolah negeri banyak dinikmati orang kaya," kata dia.

Diberitakan sebelumnya, puluhan orang tua siswa menyambangi SMAN 10 Kota Bandung pada Selasa (23/6/2020) siang. Mereka memprotes hasil Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang dinilainya tidak tepat. Pasalnya, anak-anak mereka tak lolos seleksi, namun ada siswa lain yang nilainya lebih kecil bisa diterima pada tahap pertama ini.

Video aksi protes ini sempat dibagikan oleh warganet. Dalam video berdurasi singkat tersebut terlihat sejumlah orang tua tengah berkumpul di ruang lobi SMAN 10. Salah seorang orang tua siswa, Sofie, mengaku heran dengan hasil seleksi PPDB jalur prestasi di SMAN tersebut.

Sebab nilai anaknya cukup tinggi yakni 641, sementara di laman PPDB SMAN 10 tersebut ada siswa yang lolos dengan skor 581. "Ini kan agak aneh, makanya orang tua datang ke sekolah untuk mencari tahu, kriteria apa yang ditetapkan," ujar Sofie saat dikonfirmasi.

Tonton juga video 'Anies Didemo Massa Wali Murid, Tolak Aturan Usia PPDB':

(dir/mso)