Protes Anaknya Tak Lolos, Puluhan Orangtua Siswa Datangi SMA 10 Bandung

Yudha Maulana - detikNews
Selasa, 23 Jun 2020 16:46 WIB
Protes PPDB, ortu siswa datangi ke sma 10 bandung
Foto: Yudha Maulana
Bandung -

Puluhan orang tua siswa menyambangi SMAN 10 Kota Bandung pada Selasa (23/6/2020) siang. Mereka memprotes hasil Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang dinilainya tidak tepat. Pasalnya, anak-anak mereka tak lolos seleksi, namun ada siswa lain yang nilainya lebih kecil bisa diterima pada tahap pertama ini.

Video aksi protes ini sempat dibagikan oleh warganet. Dalam video berdurasi singkat tersebut terlihat sejumlah orang tua tengah berkumpul di ruang lobi SMAN 10. Salah seorang orang tua siswa, Sofie, mengaku heran dengan hasil seleksi PPDB jalur prestasi di SMAN tersebut.

Sebab nilai anaknya cukup tinggi yakni 641, sementara di laman PPDB SMAN 10 tersebut ada siswa yang lolos dengan skor 581. "Ini kan agak aneh, makanya orang tua datang ke sekolah untuk mencari tahu, kriteria apa yang ditetapkan," ujar Sofie saat dikonfirmasi.

Dari penjelasan yang didapatkannya, tak lolosnya anaknya itu dikarenakan pihak sekolah mencari siswa sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan oleh SMAN 10. "Alasannya saya tidak masuk karena tidak sesuai dengan kriteria mereka. Jadi kami ingin tahu apa sebenarnya kriteria yang mereka berikan," ujarnya.

Ia pun enggan untuk mengikuti pendaftaran jalur zonasi di sekolah tersebut. "Mungkin bukan rezeki saya ke sini. Saya pribadi pasrah ya sudah lah nanti kita cari SMA lain," katanya.

Pantauan detikcom, pada pukul 14.00 WIB sejumlah orang tua terus berdatangan ke SMAN 10 Kota Bandung. Mereka bergantian masuk ke ruang aduan yang disediakan di sekolah tersebut.


Orang tua siswa lainnya, Yanti mengaku sempat kecewa ketika melihat hasil pengumuman PPDB di sekolah tersebut. Ia pun mendatangi kepala sekolah dan panitia PPDB di sekolah tersebut untuk mencari informasi lebih jelas, terkait tidak diterima anaknya.

"Pertamanya saya kesal. Tapi setelah dapat penjelasan dari pihak sekolah ya sudah saya ikuti saja, padahal kan kalau masuk ke sekolah swasta juga tidak murah. Tapi ya mau bagaimana lagi, karena lokasi SMA yang lain yang terdekat hanya ini, tapi kan katanya daerah ini padat penduduk, peluangnya juga sangat kecil," ujarnya.

Kepala Sekolah SMA 10 Bandung Ade Suryaman menuturkan, keberadaan siswa dengan nilai lebih kecil yang lolos berkaitan dengan pemerataan peluang pendidikan. Hal itu tidak melanggar, karena tetap mengacu kepada petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis PPDB Jabar 2020

Menurutnya, kuota untuk jalur prestasi raport di SMA 10 hanya untuk 30 siswa. Kuota jalur prestasi ditambah 15 sehingga total 45, karena ada pengalihan dari jalur prestasi non-akademik yang tidak sesuai.

Dari 15 kursi itu, enam kursi siswa dengan nilai tinggi, sedangkan sembilan kursi lainnya diberikan sesuai kriteria kebutuhan sekolah. "Kita ada kriteria tertentu di mana dari sekolah dengan rata-rata UN terkecil dan memasukkan data ke SMA 10 bisa masuk, sekolah diberi kewenangan untuk menentukan kriteria sesuai kebutuhan sekolah," ujar Ade.

Kenapa kriteria ini dipilih, lanjut ade, ini berdasarkan musyawarah mufakat dewan sekolah. Harapannya siswa dari SMP yang terdekat dan memiliki nilai skor kecil saat memasukkan data ke SMA 10, tapi memiliki nilai paling besar di antara teman-temannya dari SMP yang sama, bisa masuk ke SMAN 10.


Cara ini diyakini bisa membuat pemerataan peluang bagi siswa, sehingga tidak semua yang masuk ke SMA 10 harus memiliki nilai paling besar dengan memiliki rata-rata nilai UN di Kota Bandung.

"Intinya ini untuk pemerataan. Kursi ini pun sebenarnya peralihan karena untuk jalur prestasi akademik sebenarnya tidak diubah hanya 30. Sisanya yang peralihan non-akademik baru sesuai kriteria sekolah," katanya.

"Kalau misal hanya dari nilai mungkin saya pukul rata semuanya, tapi kan sekolah juga diberi kewenangan untuk mencari siswa sesuai kebutuhan sekolah," pungkasnya.

(yum/ern)