Antisipasi Puncak Pandemi, Pemkot Bogor Bentuk Detektif COVID

M. Sholihin - detikNews
Sabtu, 20 Jun 2020 09:49 WIB
Wali Kota Bogor Bima Arya
Wali Kota Bogor Bima Arya (Foto: M. Sholihin/detikcom)
Bogor -

Pemkot Bogor melakukan beberapa langkah untuk menyikapi lonjakan kasus positif Corona atau COVID-19 dan menghadapi masa puncak pandemi di Kota Bogor yang diprediksi terjadi pada Juli-Agustus 2020. Salah satunya ialah membentuk tim Deteksi Aktif (Detektif) COVID sebagai bentuk penguatan di lapangan untuk menekan penyebaran virus tersebut.

"Ada tiga langkah yang dilakukan Pemkot Bogor sekarang. Pertama adalah penguatan mitigasi infeksi. Mitigasi infeksi ini adalah sistem lacak dan sistem pantau yang sering kita dengar dengan sebutan surveillance. Kami juga melakukan penguatan pasukan di lapangan, kami sebut pasukan ini adalah Detektif COVID yaitu Deteksi Aktif COVID," kata Wali Kota Bogor Bima Arya, Sabtu (20/6/2020).

Detektif COVID Kota Bogor ini memiliki dua unit, yakni unit pelacakan dan unit pemantau. Detektif COVID juga dibentuk untuk memperkuat keberadaan RW Siaga yang sudah ada di Kota Bogor.

"Unit pelacak ini tugasnya adalah melacak atau spoting orang-orang yang teridentifikasi COVID-19, kemudian menentukan ODP-nya semaksimal mungkin, seakurat mungkin. Unit ini terdiri dari tim di kecamatan, ada Babinsa ada Babinkamtibmas di situ. Jumlahnya ada 130 orang," tutur Bima.

Sementara unit pemantau, lanjut Bima, memiliki tugas untuk memastikan orang dengan status ODP tidak berkeliaran selama 14 hari. Unit ini berjumlah sebanyak 822 orang.

"Kemudian unit pemantau yang tugasnya agar orang yang ODP tetap dipantau tidak kemana mana selama 14 hari. Ada 822 orang di seluruh Kota Bogor, karena kita rekrut untuk menguatkan tim yang ada di puskesmas ditambah satu kader di RW siaga," kata Bima.

Berdasarkan kajian pakar epidemiologi, menurut Bima, puncak lonjakan kasus COVID-19 di Kota Bogor akan terjadi sekitar Juli-Agustus 2020. "Ini saya kira mendekati prediksi tersebut, kita ini menuju puncak, dan terkendali apabila kita bisa mencegah transmisi dari luar. Tetapi yang kita khawatirkan adalah yang masuk ke Bogor," ucapnya.

"Jadi transmisi lokal sejauh ini bisa dikendalikan, kecuali yang tiga yaitu fasilitas kesehatan, pertokoan dan pasar. Makanya betul-betul kita perketat di kawasan itu," ujar Bima menambahkan.

(bbn/bbn)