ADVERTISEMENT

Pandemi Corona

Perjuangan Mudik Korban PHK Berakhir Isolasi di Gedung Sekolah

Faizal Amiruddin - detikNews
Jumat, 01 Mei 2020 03:54 WIB
Pemkab Pangandaran karantina sementara pemudik di sebuah bangunan sekolah
Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata saat meninjau lokasi karantina di SMP Negeri 2 Padaherang. (Foto: Faizal Amiruddin/detikcom)
Pangandaran -

Menjalani isolasi mandiri di gedung sekolah ternyata tak semudah dan sesederhana yang dibayangkan. Setidaknya hal itu dialami Lia Yulianti (19) warga Cipicung, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Meski terlihat tegar dan tenang menjalani karantina di bangunan sekolah, Lia ternyata menyimpan cerita yang cukup memprihatinkan akibat keputusannya nekat pulang kampung saat pandemi Corona atau COVID-19.

Lia sudah setahun ini bekerja di sebuah pabrik garmen di daerah Gunung Putri Kabupaten Bogor. Beberapa hari lalu, dia rupanya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). "Kontrak kerja habis, perusahaan tak mau memperpanjang," kata Lia, saat ditemui di sebuah ruang kelas SMP Negeri 2 Padaherang, tempat dirinya menjalani isolasi, Kamis (30/4).

Seorang perempuan lajang, tinggal di perantauan, tanpa ada pekerjaan tentu saja membuat Lia berpikir untuk pulang kampung. "Ya mau ngapain lagi. Saya ingin pulang saja, mumpung masih ada sedikit bekal," ucapnya.

Berbekal uang gaji, Rabu (29/4) malam Lia berkemas untuk mudik. Dia memutuskan untuk menumpang jasa travel. Meski ongkos travel tinggi, dia rela. "Ongkosnya Rp 600 ribu, mahal sekali. Tapi mau bagaimana lagi, katanya bus umum sudah nggak ada," ujar Lia.

Diperiksa, ditanya oleh petugas. Ya sudah saya ikuti aturannya. Ternyata saya dibawa ke SMPN 2.Lia Yulianti

Sepanjang perjalanan lamunan Lia menerawang kampung halaman dan sanak keluarga yang sudah dirindukannya selama setahun terakhir. Namun beberapa menit lagi perjalanan sampai ke rumahnya, mobil travel yang ditumpanginya dicegat petugas gabungan di perbatasan Ciamis-Pangandaran. Padahal dari perbatasan ke rumahnya hanya tinggal 10 menit perjalanan.

Lia menjalani pendataan dan ditanya petugas. Dia menjawab apa adanya.

"Saya sampai perbatasan itu sekitar jam satu pagi. Diperiksa, ditanya oleh petugas. Ya sudah saya ikuti aturannya. Ternyata saya dibawa ke SMPN 2," tuturnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT