Tes Masif Corona, Kapolda Jabar: Hanya Orang yang Diperkirakan Terpapar

Muhammad Iqbal - detikNews
Senin, 23 Mar 2020 19:50 WIB
Kapolda Jabar Irjen Rudy Sufahriadi
Foto: Kapolda Jabar Irjen Pol Rudy Sufahriadi (tengah) (Muhammad Iqbal/detikcom).
Kabupaten Bandung -

Kapolda Jabar Irjen Rudy Sufahriadi menghadiri rapat bersama Kapolresta Bandung Kombes Hendra Kurniawan beserta jajaran Pemda Kabupaten Bandung, dalam rangka membahas persiapan pelaksanaan Rapid Test Covid-19 di Stadion Si Jalak Harupat (SJH). Berbagai rencana dibahas dalam pertemuan tersebut.

Sebagaimana diketahui, Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung rencananya akan menjadi tempat pelaksanaan Rapid Test Covid-19. Rencananya tes tersebut akan dimulai Selasa (24/3/2020) atau Rabu (25/3/2020) mendatang.

Rudy menerangkan, rapid test Covid-19 tidak diberlakukan untuk semua orang. Menurutnya, hanya-hanya orang yang masuk dalam pemantauan dan kriteria lainnya.

"Bukan tes masal namanya masif, hanya orang-orang tertentu yang dipilih, yang diperkirakan terpapar," ucap Rudy usai rapat di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Senin (23/3/2020).

Kapolresta Bandung Kombes Hendra Kurniawan mencoba menjelaskan yang dimaksud oleh Kapolda Jabar. Yang dimaksud 'dipilih' adalah warga yang diduga terpapar Covid-19 beserta orang yang ada di lingkungan ODP, PDP dan positif.

"Yang saya dapat dari rapat itu, nanti tidak semua bisa mengikuti tes, saya juga belum tentu bisa ikut tes. Nanti bakal ada undangan untuk ikut tes," kata Hendra.

Dari pantauan detikcom, di sekitar SJH belum terlihat peralatan medis untuk melakukan Rapid Test, suasana SJH terlihat sepi.

Hendra menambahkan, sistem drive through akan diberlakukan untuk menghindari kontak fisik antara perawat dan warga. Ia akan memaksimalkan alur jalan yang cukup luas di sekitar Stadion SJH

"Sistem yang digunakan adalah drive through, petugas tidak bersentuhan dengan ODP atau PDP. Kita akan maksimalkan alur (jalan) yang ada di sini," ujarnya.

Menurutnya, setelah hasil tes keluar, pihaknya akan melalukan rekayasa alur. Rekayasa alur akan diberlakukan untuk memisahkan warga yang negatif dan positif. Hal ini dilakukan agar tidak tercampur dan mengantisipasi penularan.

"Tes hanya 10 menit, pada tes terakhir akan ketahuan hasilnya yang positif akan ditindaklanjuti lagi dengan pemeriksaan lanjutan, yang negatif akan kita suruh pulang," ujar Hendra.

(mso/mso)