Tolong! Pengungsi Banjir di Karawang Butuh Makanan Bayi dan Popok

Luthfiana Awaluddin - detikNews
Rabu, 26 Feb 2020 22:49 WIB
Pengungsi Banjir di Karawang
Warga Karawang terdampak banjir saat berada area pengungsian. (Foto: Luthfiana Awaluddin/detikcom)
Karawang -

Sudah dua hari, ratusan korban banjir dari Desa Sukamakmur, Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, mengungsi ke ruko di wilayah Resinda. Banjir setinggi leher pria dewasa membuat mereka meninggalkan desanya.

Pantauan di lokasi, pengungsi didominasi perempuan bayi dan anak kecil. Namun bantuan untuk mereka masih belum mencukupi.

"Yang dibutuhkan warga kami adalah makanan untuk bayi, termasuk susu, popok dan perlengkapan lainnya," kata Oman Suparman (60), Ketua RT 1 RW 1, saat ditemui di pengungsian, Rabu (26/2/2020).

Paket bantuan dari berbagai pihak sudah berdatangan. Namun didominasi oleh mi instan, beras dan makanan ringan. "Kalau susu, makanan bayi dan popok itu masih kurang," kata Oman.

Saat ini, ratusan pengungsi ditampung di bekas gerai mobil, di area pertokoan Resinda. Beralaskan tikar dan spanduk bekas, mereka nampak berkelompok. Banyak terlihat ibu yang mengipasi bayi mereka yang kepanasan. "Kalau siang panas kalau malam banyak nyamuk," kata Awen (37), seorang pengungsi.

Tolong! Pengungsi Banjir di Karawang Butuh Makanan Bayi dan PopokWarga Karawang terdampak banjir saat berada area pengungsian. (Foto: Luthfiana Awaluddin/detikcom)

Awen membawa bayi dan dua anaknya yang masih kecil ke pengungsian. Namun, sayangnya, Awen tak sempat membawa baju dan perlengkapan lainnya.

"Saat mengungsi, kami hanya bawa pakaian dan selimut yang secukupnya. Karena air naik cepat sekali malam itu. Sisanya terpaksa kami tinggalkan," ujarnya.

Ia menyebut bantuan mulai berdatangan pada Rabu pagi tadi. Ia warga lain sebetulnya tak kekurangan makanan. Tetapi Awen mengaku kesulitan memberi makan anaknya yang masih balita.

"Kalau orang dewasa seperti kami sebetulnya bisa makan mie instan dan beras, tapi untuk anak balita kami tak bisa paksakan," ujarnya.

Untuk mengakali supaya anak balitanya cukup nutrisi, Awen terpaksa membeli susu kemasan atau membeli bubur ayam. "Itupun lokasinya jauh karena tempat mengungsi ini di kawasan elit. Jarang ada pedagang ke sini," ujar Awen.

(bbn/bbn)