Gadis SMP Tasikmalaya Tewas di Gorong-gorong, Korban Kejahatan?

Dadang Hermansyah - detikNews
Selasa, 28 Jan 2020 21:38 WIB
Gorong-gorong smpn 6 tasikmalaya lokasi temuan mayat
Polisi olah tempat kejadian perkara (TKP) penemuan mayat gadis SMP di gorong-gorong. (Foto: Dadang Hermansyah/detikcom)
Tasikmalaya -

Jasad gadis SMP Tasikmalaya, Delis Sulistina (13), yang ditemukan tewas di gorong-gorong, diautopsi guna mengetahui penyebab kematiannya. Proses autopsi melibatkan dokter forensik Polda Jabar yang berlangsung di instalasi pemulasaran jenazah RSUD dr Soekardjo, Tasikamalaya, Jawa Barat, Selasa (28/1/2020).

"Saat ini dilakukan autopsi atas jasad korban, dilakukan oleh dokter forensik. Dari autopsi ini, dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Masih akan menganalisa dari hasil-hasil yang ditemukan pada otopsi ini," ujar Kapolres Tasikmalaya Kota AKBP Anom Karibianto.

Menurut Anom, dokter forensik perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Hasil autopsi diperkirakan akan diketahui dua minggu hingga 20 hari. Soal adanya informasi lebam dan jeratan pada tubuh Delis, Anom enggan berspekulasi.

"Jadi sementara kita belum bisa memastikan apakah korban kejahatan atau meninggal biasa," kata Anom.

Polisi masih menyelidiki, menyesuaikan temuan di tempat kejadian perkara (TKP), mencari bukti dan saksi. Rangkaian penyelidikan tersebut nantinya didukung hasil autopsi.

"Dalam kasus ini kami telah memeriksa enam saksi. Akan disesuaikan dengan TKP dan bukti. Bukti yang diamankan berupa tas korban, buku-buku, sepatu dan pakaian. Masih mengenakan seragam lengkap pramuka," kata Anom.

Sementara itu, dokter forensik Fahmi Arief Hakim menjelaskan, pihaknya telah melakukan autopsi sesuai standar pemeriksaan luar dan dalam. Kondisi jasad sudah dalam keadaan membusuk 2-3 hari.

"Karena mayat membusuk, sehingga menentukan luka-luka cukup sulit. Untuk memastikan ada tidaknya kekerasan perlu dikonfiirmasi dengan proses mikroskopik," ujar Fahmi.

Fahmi mengatakan untuk hal lain yang menyangkut hasil pemeriksaan belum bisa disampaikan. "Adanya proses pembusukan menyulitkan kami menentukan sebab kematiannya. Bukan tidak tampak mungkin sebelumnya ada jadi hilang karena pembusukan jadi perlu konfirmasi. Hasilnya minimal 14 hari kerja," tutur Fahmi.

(bbn/bbn)