Unak Anik Jabar

Situs Bale Panjang, Jejak Penyebaran Islam di Cirebon

Sudirman Wamad - detikNews
Selasa, 14 Jan 2020 08:11 WIB
Foto: Sudirman Wamad
Cirebon - Situs Bale Panjang yang berada di Desa Sarabau, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, merupakan salah satu jejak peninggalan penyebaran agama Islam.

Situs Bale Panjang berbentuk joglo, bedanya bangunan ini tampak terlihat lebih panjang dibandingkan joglo pada umumnya. Bangunan Bale Panjang berbahan dasar kayu. Atapnya pun terbuat dari ilalang.

Bale Panjang memiliki enam tiang pondasi. Kemudian, lima tiang yang menyangga atap. Jumlah tiang tersebut melambangkan rukun iman dan Islam.

"Enam tiang itu melambangkan keimanan, pondasi beragama yaitu keimanan. Kemudian lima tiang simbol rukun Islam," kata budayawan Cirebon Arida saat berbincang dengan detikcom, Jumat (10/1/2020).

Lokasi Bale Panjang berada di Situs Ki Buyut Asup, salah satu penyebar agama Islam di Cirebon. Ki Buyut Asup memiliki nama lain yakni Syekh Asyufi. Salah satu tokoh penting yang membangun Masjid Sirbudhirahsa, atau Masjid Kuno Gamel yang dibangun pada abad 12 awal.

"Bale Panjang ini digunakan untuk beribadah dan musyawarah pada zaman dahulu," kata Arida.

Arida juga mengatakan ada dua tiang kayu yang dilapisi kain tebal. Di dalamnya terdapat ukiran dua kalimat syahadat.

"Pernah dibongkar waktu pemugaran, isinya itu dua kalimat syahadat yang menyimbolkan sebagai jantung. Jantung yang harus diikat dengan dua kalimat syahadat bagi orang yang bergama Islam," katanya.

Dalam perkembangannya, Bale Panjang sudah melewati berbagai pemugaran. Namun, ada beberapa bagian yang masih orisinil. Arida tak menampik Bale Panjang merupakan salah satu situs tertua di Cirebon.

Selain dijadikan sebagai tempat ibadah dan musyawarah pada zaman dulu, dikatakan Arida, Bale Panjang dijadikan sebagai tempat untuk mengungkapkan rasa syukur masyarakat. Seperti masyarakat yang sembuh dari sakit, mendapatkan rezeki dan lainnya.
Situs Bale Panjang, Jejak Penyebaran Islam di CirebonFoto: Sudirman Wamad

Uniknya, masyarakat sekitar menggunakan kain sebagai ungkapan rasa syukurnya. Kain tersebut kemudian diikatkan ke tiang yang bertuliskan dua kalimat syahadat. Hingga kini tradisi tersebut masih dilakukan.

"Kain itu hanya simbol. Simbol bahwa kita harus mengikat dua kalimat syahadat di jantung kita. Simbolis aja," kata Arida.

Senada disampaikan Kepala Desa Sarabau AD Elon. "Yang diikat sama kain tebal itu kalimat syahadat. Itu simbolis tradisi di sini," kata Elon.

Elon mengatakan tak ada batasan untuk jenis kain atau panjang kain yang diikat di tiang Bale Panjang. Bahkan, tradisi mengikat kain sebagai rasa syukur itu sejatinya bentuk gotong royong. Kain terebut bisa digunakan bagi mayarakat yang kurang mampu, utamanya untuk kebutuhan sandang.

"Pada intinya dari masyarakat untuk masyarakat. Kalau ada yang butuh kain, kita bisa ambil dari sini (Bale Panjang). Tentunya atas izin dari juru kunci terlebih dahulu, dan itu pernah terjadi," katanya. (ern/ern)