Unak Anik Jabar

Kisah Pembunuhan Berencana Berkedok Tari Ronggeng Gunung

Faisal Amiruddin - detikNews
Sabtu, 11 Jan 2020 19:40 WIB
Foto: Faisal Amiruddin
Pangandaran - Kesenian ronggeng gunung merupakan seni tradisional khas Pangandaran. Pemerintah Kabupaten Pangandaran, pelaku seni dan masyarakat terus berupaya melestarikan, mengembangkan dan menggali sejarah dari seni tari tradisional ini. Denyut aktivitas seni ronggeng gunung ini masih bertahan. Jika penasaran ingin menyaksikan dan ikut menari bersama ronggeng gunung, bisa datang setiap malam minggu di Pondok Seni Pangandaran.

Namun siapa sangka, kesenian ronggeng gunung ini rupanya pernah dijadikan sarana untuk melakukan pembunuhan berencana. Bahkan semua rangkaian pertunjukan menjadi skenario untuk menghabisi nyawa korban. Kisah berdarah itu menjadi bagian dari asal-usul lahirnya ronggeng gunung.

Cerita berawal pada masa kerajaan Galuh. Seorang pria bernama Anggalarang mendirikan kerajaan Pananjung. Pananjung sendiri saat ini merupakan nama Desa di Kecamatan Pangandaran. Kawasan pantai barat, pantai timur dan cagar alam itu masuk wilayah Desa Pananjung.

Namun kerajaan pesisir yang tentu saja kaya potensi bahari itu rupanya menjadi incaran kawanan bajak laut. Saat kerajaan mulai berkembang, kawanan perompak yang dipimpin Kalasamudra datang menyerang. Padahal kerajaan Pananjung belum memiliki angkatan perang yang memadai. Tak ayal kerajaan itu porak poranda diserang dan dijarah bajak laut. Anggalarang tewas di tangan Kalasamudra.

Beruntung saat itu istri Anggalarang, yakni Dewi Samboja berhasil meloloskan diri dari serangan bajak laut. Dari pesisir pantai dia melarikan diri ke perbukitan.

Dalam pelariannya, Dewi Samboja bertemu dengan masyarakat gunung dan menyaksikan sebuah ritual persembahan untuk Dewi Sri berbentuk tarian dan sesajen.

Simak Video "Sakit Hati Korban Hamili Istrinya Jadi Motif Pembunuhan di Gresik"


Selanjutnya
Halaman
1 2 3