Terdampak Kereta Cepat, 261 Siswa SD di Purwakarta Belajar di Aula Desa

Dian Firmansyah - detikNews
Selasa, 07 Jan 2020 13:17 WIB
Siswa SDN `1 Malangnengah, Kabupaten Purwakarta belajar di aula desa (Foto: Dian Firmansyah/detikcom).
Purwakarta - Ratusan siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Malangnengah, yang berlokasi di Desa Malangnengah, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta terpaksa harus mengungsi ke aula Desa Malangnengah untuk proses belajar mengajarnya. Pasalnya bangunan sekolah mereka kini sudah diratakan dengan tanah yang tergerus jalur Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

"Sudah sesuai kesepakatan, terhitung tanggal 06 Januari 2020 kami mulai pindah sementara ke area kantor desa untuk proses belajar mengajar", ujar Aja Safja seorang guru yang mewakili Kepala Sekolah SDN 1 Malangnegah saat ditemui di lokasi, Selasa (07/01/2020).

Aja menjelaskan untuk pembagian jadwal belajar para siswanya. Ruang aula desa di gunakan untuk kelas 1 dan kelas 3 mulai pukul 06.00 WIB hingga pukul 09.00 WIB pagi. Sedangkan dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB digunakan kelas 4 dan kelas 5.


Kemudian untuk kelas 2 dan kelas 6 menggunakan ruangan yang sebelumnya di gunakan ruangan Puskesmas. Siswa kelas 2 masuk pukul 06.00 WIB hingga pukul 09.00 WIB dan kelas 6 masuk pukul 09.00 hingga pukul 12.00 siang. Sementara halaman desa dimanfaatkan untuk area bermain dan olah raga ratusan siswa di sekolah tersebut.

Aja mengakui jika proses belajar mengajar dengan kondisi seperti ini tidak efektif, mengingat para siswa harus saling berbagi. Hal ini terpaksa dilakukan seiring proses pembangunan sekolah baru masih berlangsung.

"Kami memilih area desa karena tidak ada lagi lokasi yang luas yang dapat menampung semuanya. Kami akui tidak efektif belajar seperti ini. Menurut pihak pembangun, sekolah di targetkan selesai pada enam bulan ke depan, namun jika empat bulan sudah selesai kami bisa segera pindah," ucap Aja.

261 siswa di sekolah tersebut harus rela berbagi, baik berbagi waktu belajar yang tidak normal seperti biasa, hingga berbagi tempat yang harus bergiliran. Selain itu mereka harus berhimpitan karena harus digabung antara kelas A dan kelas B, bahkan siswa dan guru juga harus ekstra mengajar dan belajarnya karena kondisi yang berisik akibat satu ruangan dibagi.


Menurut salah satu siswi kelas 6, Shana menuturkan, tidak jadi soal harus berpindah tempat belajar namun jadwal pelajaran harus tetap pada jadwal normalnya, mereka pun harus ekstra belajar mengingat akan menghadapi ujian kelulusan.

"Saya gak masalah belajar di sini, di sini sama bisa belajar dan pelajarannya juga sama, saya harus menghapal pelajar untuk menghadapi ujian", ungkap Shana yang tengah menunggu di luar untuk giliran ruangan.

Sementara orang tua siswa mengeluh dengan kondisi ini, orang tua beranggapan belajar seperti ini tidak efektif. "ya tidak efektiflah, waktu belajarnya berkurang, tempatnya juga seperti ini. Harapan kami sekolah baru bisa segera selesai" ujar Sri Orang Tua Siswa kelas dua yang masih menunggu anaknya masuk sekolah.

Kini bangunan sekolah yang luasnya mencapai 1 hektare sudah rata dengan tanah, hal ini dikarenakan lokasi sekolah tergerus jalur Kereta Cepat Jakarta - Bandung yang proses pembangunannya tengah berlangsung. Pihak terkait sudah menyepakati untuk memindahkan sekolah ke tempat yang lain dengan luas yang mungkin tidak sama, proses pembangunan pun tengah berlangsung yang di targetkan selesai enam bulan ke depan.

(mso/mso)