Soroti Sel Luas di Lapas Sukamiskin, Ombudsman: Kenapa Dibiarkan?

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Jumat, 20 Des 2019 15:00 WIB
(Foto: Dony Indra Ramadhan/detikcom) Sel Setya Novanto di Lapas Sukamiskin
Bandung - Ombudsman Republik Indonesia (RI) heran masih ada sel berukuran besar di Lapas Sukamiskin yang dihuni oleh narapidana korupsi. Salah satunya sel yang ditempati mantan Ketua DPR RI Setya Novanto.

"Tadi kita lihat di atas dan di bawah sedang renovasi. Mungkin sudah mencapai 80-90 persen. Namun kemudian, kami melihat ada hal-hal yang belum maksimal," ucap anggota Ombudsman RI Adrianus Meliala saat mengunjungi Lapas Sukamiskin di Jalan AH Nasution, Kota Bandung, Jumat (20/12/2019).


Kunjungan Ombudsman ini didampingi oleh Kepala Kanwil Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM) Jabar Liberti Sitinjak, Kadivpas Kemenkum HAM Jabar Abdul Aris dan Kalapas Sukamiskin Abdul Karim.

Adrianus mencontohkan hal-hal yang belum maksimal tersebut. Salah satunya soal ukuran sel masing-masing narapidana. Kondisi sel memang terlihat ada yang kecil dan ada juga yang berukuran besar.

Detikcom berkesempatan untuk masuk ke dalam blok hunian napi di blok timur. Kondisinya memang sedang dalam tahap renovasi.

Deretan sel berada di lantai satu dan dua. Untuk sel di lantai satu memang terlihat lebih kecil berukuran 3x1,8 meter. Di dalamnya hanya ada lemari yang menempel di dinding serta kamar mandi yang disekat menggunakan fiber. Lantai bawah ini disebut-sebut dikhususkan bagi napi pidana umum.


Sementara di lantai dua yang disebut digunakan napi tipikor, kondisinya tampak berbeda. Ukuran selnya lebih luas. Bahkan ada ruangan khusus kamar mandi yang penyekatnya bukan dari fiber seperti di lantai bawah. Selain itu, toiletnya pun sudah menggunakan toilet duduk.

Sel Setya Novanto yang dikunjungi rombongan terakhir justru lebih luas. Bahkan sel Novanto di nomor TA 04 terdiri dari dua sel yang dijadikan satu. Di kamar mandi, sudah ada toilet duduk dan shower.

"Maka menjadi perhatian dari kami kenapa hal ini dibiarkan. Bagus juga karena kunjungan kami didampingi langsung oleh Kakanwil dan kakanwil memberikan suatu respons bahwa hal itu seyogyanya nggak perlu ada," kata dia.


Menurut Adrianus, selain sel Novanto, dia juga mengecek sel yang biasa ditempati mantan Kakorlantas Irjen Djoko Susilo dan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazaruddin. Menurut Adrianus, luas kamar kedua napi tipikor itu tak jauh berbeda dengan milik Setya Novanto.

"Nah disitu menarik karena kepada tiga kamar itu sebenernya terdapat penjebolan sel artinya itu sebenarnya ada enam sel yang dijebol sehingga menjadi tiga sel. Di sini kan ada soal karena ini cagar budaya. Tadi kan dari awal Pak Kakanwil mengatakan ini adalah cagar budaya dan usul agar jangan sampai cagar budaya ini rusak. Tapi ternyata kan itu sudah dirusak oleh yang bersangkutan. Maka menurut saya dikembalikan dong kepada bentuk awalnya," tuturnya.

"Oke memang nggak mungkin kembali bentuk awalnya, tapi minimal ada usaha lah dari kita untuk memperbaiki sehingga hakikat satu orang untuk satu sel berlaku. Karena untuk sekarang saya kira susah untuk kita kemudian mengatakan sebagai standar," kata dia menambahkan.


Dia juga menyarankan agar tidak ada perbedaan perlakuan antara napi tipikor dengan napi lainnya. Sebab dia melihat dari luasan kamar ketiga napi tipikor itu.

"Nah ini menarik juga tapi kami serahkan saja kepada Kakanwil dan jajaran kenapa hal itu bisa terjadi. Kan kesannya begini, kalau kesan di luar kan bahwa kamar ini ada yang untouchables. Nah ketika itu terjadi, bagaimana pengawasan dari pihak lapas atau pihak inspektur yang mengawasi hari-hari ini. Yang penting pada hari ini Ombudsman dan Kakanwil telah menjalankan peran pengawasan tersebut dan agar menjadi optimal," katanya. (dir/mso)