Curhat TKW Asal Cianjur yang Gaji-Perhiasan Dirampas Agen di Riyadh

Syahdan Alamsyah - detikNews
Jumat, 13 Des 2019 11:49 WIB
(Foto: Istimewa) TKW Elisa Nurhasanah saat mendatangi Astakira Cianjur.
Cianjur - Elisa Nurhasanah (38), seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Kampung Ciparay, Desa Salagedang, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mengaku sempat menjadi korban penyekapan sebelum pulang ke Indonesia.

Ia mengaku disekap karena menolak saat diminta untuk bekerja kembali, padahal masa kontraknya sudah habis. Pihak yang memaksanya itu disebut Elisa merupakan Syarikah Rent Riyadh semacam agen TKW yang berada di Riyadh. Elisa mengaku sempat dikurung selama 23 hari, uang gaji, perhiasan hingga pakaian dalam koper dirampas oleh agen tersebut.

"Saya ingin pulang karena kontrak habis malah dikurung sampai 23 hari oleh orang syarikat karena menolak bekerja lagi. Uang gaji dirampas berikut perhiasan berupa 2 anting, 1 kalung dan pakaian satu koper," tutur Elisa, Jumat (13/12/2019).


Elisa bercerita mulai bekerja sebagai pada tahun 2017 dengan masa kerja sampai tahun 2019. Selama di Arab Saudi, dirinya bekerja di rumah Aminah dengan upah 1.500 riyal per bulan. Pembayaran upahnya lancar hingga akhir masa kerja selama dua tahun.

Usai menuntaskan kontrak ia kembali ke Syarikah Rent Riyad minta untuk dipulangkan ke Indonesia dengan membawa uang gaji sebesar 14.335 riyal. "Saya diminta bekerja di majikan inisial A, gaji saya yang 14 ribu riyal dikembalikan hanya setengahnya karena saya setuju untuk kembali bekerja. Saya berpikir keras bagaimana caranya bisa pulang, makanya menerima tawaran dulu supaya bisa berkomunikasi dengan keluarga ataupun KBRI. Namun waktu itu saya ingin pulang ke Indonesia, ke KBRI tidak ada respon," tuturnya.

Dua bulan bekerja di majikan yang ditunjuk pihak agen, Elisa bertemu dengan seorang pegiat di Arab Saudi. Saat itu ia dibawa ke KBRI, selama 5 bulan itu ia dibantu soal kepulangannya oleh petugas KBRI.


Saat itu Elisa mengaku heran karena diminta untuk membuat surat pernyataan tidak akan menuntut hak ke agen Syarikah atau ke KBRI jika ingin pulang.

"Saya diminta membuat pernyataan karena memang ingin segera pulang ke kampung, tapi oleh orang KBRI itu saya disodori surat pernyataan itu padahal masih ada uang gaji saya sebesar 7.435 riyal lagi. Ketika tiba di Indonesia pada 8 Desember 2019 paspor saya diminta oleh orang suruhan petugas KBRI di Bandara Soekarno Hatta," katanya.
Selanjutnya
Halaman
1 2