detikNews
Rabu 16 Oktober 2019, 13:04 WIB

Babi Hutan Rusak Lahan di Ciamis, Warga Pasang 3 KM Pagar Berduri

Dadang Hermansyah - detikNews
Babi Hutan Rusak Lahan di Ciamis, Warga Pasang 3 KM Pagar Berduri Warga Desa Mekarbuana, Kabupaten Ciamis, memasang pagar untuk antisipasi babi hutan. (Foto: Dok. Desa Mekarbuana)
Ciamis - Kawanan babi hutan di kaki Gunung Madati, Desa Mekarbuana, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, kerap turun dan merusak lahan pertanian milik warga. Mengatasi hal itu, warga berinisiatif memasang kawat berduri sepanjang 3 kilometer.

Warga sudah sangat resah dan mengalami kerugian dengan turunnya hama tersebut. Babi merusak lahan pertanian, tanaman palawija seperti talas dan singkong. Luas lahan pertanian yang rusak akibat kawanan babi hutan diperkirakan mencapai 30 hektar.

"Warga sudah resah, kami dari desa gotong royong bersama kepala dusun dan masyarakat memasang pagar kawat duri di kaki Gunung Madati. Target sepanjang 3 kilo," ujar Kaur Ekbang Anda Lesmana saat dihubungi, Rabu (16/10/2019).


Pemasangan kawat berduri itu berasal dari dana desa anggarannya sebesar Rp 27 juta. Pagar dipasang selama 1 minggu dilakukan bertahap, tahap awal 500 meter, dilanjut 700 meter. Saat ini baru terpasang 1,2 kilometer. Tinggi pagar kawat ini 1,5 meter menggunakan tiang besi.

"Pemagaran ini akan terus dilakukan sampai 3 kilometer. Sisanya sekitar 1,8 kilometer lagi," ucap Anda.

Resah Babi Hutan Rusak Lahan di Ciamis, Warga Pasang Pagar BerduriFoto: Dok. Desa Mekarbuana
Anda mengungkapkan tujuan pemasangan kawat berduri ini supaya babi tak lagi masuk ke area pertanian warga. Karena selama ini pertanian masyarakat rusak dan sangat merugikan.

"Kemungkinan babi turun itu, karena makanan di gunung berkurang karena musim kemarau. Atau mungkin juga karena populasinya yang meningkat," kata Anda.

Resah Babi Hutan Rusak Lahan di Ciamis, Warga Pasang Pagar BerduriFoto: Dok. Desa Mekarbuana
Kepala Resort Wilayah XX Gunung Sawal Bidang KSDA Ciamis Warid mengatakan turunnya babi hutan disebabkan berbagai faktor, seperti akibat musim kemarau sehingga makanan di gunung berkurang. Atau karena kurangnya hewan predator di lokasi itu seperti macan, membuat populasi babi hutan meningkat.

"Kalau kemarau itu makanan berkurang seperti cacing dam 'beuti-beutian'. Turun itu bisa mencari makan atau populasi meningkat. Babi itu tidak dilindungi silakan saja warga menangkap," ucap Warid.
(tro/tro)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com