detikNews
Selasa 08 Oktober 2019, 13:37 WIB

Melihat Taman Inklusi Bandung yang Kini Tak Ramah Disabilitas

Reta Amaliyah Shafitri - detikNews
Melihat Taman Inklusi Bandung yang Kini Tak Ramah Disabilitas Kondisi Taman Inklusi Bandung yang kini tak lagi ramah disabilitas. (Foto: Reta Amaliyah Shafitri/detikcom)
Bandung - Hadirnya 20 taman tematik di Kota Bandung menjadi angin segar bagi sejumlah kalangan. Tak terkecuali adanya Taman Inklusi di seberang GOR Saparua yang accessible bagi penyandang disabilitas.

Gagasan Taman Inklusi hadir dari komunitas penyandang disabilitas. Dalam perancangan desain Taman Inklusi, salah satu organisasi penyandang disabilitas, Bandung Independent Living Center (BILiC) sempat dilibatkan meski tidak secara penuh. Direktur BILiC Yuyun Yuningsih menjadi perwakilan pegiat hak difabel untuk dimintai masukan terkait konsep taman yang inklusif bagi penyandang disabilitas.

"Kami banyak terlibat bersama arsitek dan dimintai saran seperti akses masuk taman sebaiknya seperti apa. Lalu konsep fisioterapi bagi anak disabilitas, bagaimana alat yang tepat untuk dijadikan bantuan terapi melalui wahana bermain," ucapnya pada detikcom, Selasa (8/10/2019).


Namun, berdasarkan pantauan detikcom di lapangan, kondisi Taman Inkulsi masih belum sepenuhnya sesuai konsep ramah disabilitas. Akses masuk taman bahkan dihalangi empat besi yang tak bisa dilalui pengguna kursi roda. Akses lain Taman Inklusi dari Taman Maluku juga belum dilengkapi fasilitas bagi penyandang disabilitas. Belum lagi beberapa medan yang terlalu curam untuk kursi roda.

Melihat Taman Inklusi Bandung yang Kini Tak Ramah DisabilitasFoto: Reta Amaliyah Shafitri
Tak jauh dari akses masuk, terdapat guiding block untuk tunanetra yang sudah mulai rusak dan aksesnya terputus sebelum jembatan menuju Taman Maluku. Bagi penyandang disabilitas tunarungu juga belum disediakan tanda visual untuk membantu mengenali lokasi. Dengan adanya penanda visual, tunarungu bisa memperoleh informasi di area taman, seperti flora dan fauna, peta, arah dan sebagainya.

Disinggung soal kondisi Taman Inklusi saat ini, Yuyun mengaku miris dan sedikit kecewa. Meski dilabeli inklusi, namun fasilitas dapat dibilang tidak jauh berbeda dengan taman lain. Ia juga mengatakan, awalnya tidak ingin secara eksklusif dibuatkan Taman Inklusi. Sebab, seharusnya semua taman bisa diakses penyandang disabilitas.

"Kami merespon positif dan berharap taman ini menjadi percontohan bagi penyandang disabilitas. Tapi melihat kondisi sekarang malah makin menyedihkan, kurangnya perawatan, aksesibilitas tidak terjaga, juga keamanan dan kenyamanan bagi penyandang disabilitas yang tidak sesuai standar," ujarnya.

Melihat Taman Inklusi Bandung yang Kini Tak Ramah DisabilitasFoto: Reta Amaliyah Shafitri
Ia berharap, Kota Bandung bisa lebih matang jika akan launching taman atau fasilitas umum yang berkaitan dengan penyandang disabilitas. Selain itu, soal kebermanfaatannya beberapa tahun ke depan dan berapa banyak penyandang disabilitas yang terbantu akan adanya peluncuran tersebut.


Yuyun juga menyarankan pembentukan Komite Penyandang Disabilitas. Hal tersebut agar jika terjadi sesuatu terkait difabel, komite ini yang akan memberikan masukan dan informasi yang memadai kepada pemerintah supaya tidak salah kaprah dalam memberikan penanganan kepada penyandang disabilitas.

"Kalau Kota Bandung mau terbuka, ajaklah komunitas difabel seperti awal penggagasan Taman Inklusi untuk memberi saran apa saja yang harus diperbaiki, ditingkatkan, dan dipertahankan jika memang sudah baik," ucapnya.
(tro/tro)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com