detikNews
Senin 07 Oktober 2019, 16:10 WIB

Jadi Kota Termacet di Indonesia, Ini Tanggapan Pemkot Bandung

Mochamad Solehudin - detikNews
Jadi Kota Termacet di Indonesia, Ini Tanggapan Pemkot Bandung Foto: Mochamad Solehudin
Bandung - Kemacetan menjadi salah satu permasalahan yang kini menjadi sorotan di Kota Bandung. Berdasarkan survei yang dilakukan Bank Pembangunan Asia (ADB), Kota Bandung menempati urutan ke-14 sebagai kota termacet di Asia dan pertama di Indonesia.

Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana mengakui pihaknya belum mampu mengatasi masalah kemacetan secara maksimal. Banyak persoalan yang harus dihadapi demi mengurai masalah yang ada.

Misalnya saja, kata dia, Kota Bandung saat ini menjadi daerah tujuan bagi para pelaku ekonomi. Banyak warga dari luar daerah mengais rejeki di kota berjuluk Paris Van Java ini.

Berdasarkan data yang dimilikinya, jumlah warga Kota Bandung saat ini tercatat ada 2,5 juta jiwa. Namun jumlah itu bertambah saat siang hari menjadi 3,7 juta jiwa karena banyaknya penduduk dari luar daerah yang melakukan aktivitas di Kota Bandung.

Melihat kondisi tersebut, lanjut dia, kemacetan di Kota Bandung tentu tidak bisa dihindari. Karena banyaknya aktivitas warga yang tentunya juga berdampak pada tingkat pertumbuhan kendaraan di jalan.

"Ada 1,2 juta juta penduduk luar Kota Bandung beraktivitas di Kota Bandung sehingga kemacetan terjadi," kata Yana, di Balai Kota Bandung, Senin (7/10/2019).

Yana menuturkan, saat ini pihaknya tengah berupaya mencari solusi terbaik agar kemacetan ini bisa diselesaikan. Dari sisi infrastruktur pihaknya dibantu pemerintah pusat dan provinsi tengah menyiapkan sejumlah pembangunan jembatan layang.

Saat ini proses pembangunan tersebut sedang berjalan, contohnya jembatan layang di Jalan Jakarta-Supratman, Jalan Gatot Subroto-Laswi. Kemudian pada 2020 akan ada pembangunan jembatan layang di Pasteur, Kiaracondong-Soekarno Hatta dan beberapa titik lainnya.

Selain itu, pihaknya juga akan mendorong pemerintah pusat agar segera membuka akses interchange 149. Dibukanya akses tersebut tentu akan mengurangi beban sejumlah ruas jalan yang saat ini mengalami kepadatan.

"Kami juga dorong pembangunan transportasi publik. Pak Wali sempat bertemu dengan Dirut PT KAI membahas transportasi masal berbasis kereta tanpa rel. Jadi di jalan (mirip tram). Saya insya allah dalam waktu dekat ketemu Pak Wali, ketemu Pak Dirut (PT KAI) membahas transportasi," ucapnya.

Namun, untuk sementara pihaknya akan mencoba memaksimalkan rekayasa lalu lintas di sejumlah ruas jalan. Karena menurutnya itu merupakan langkah cepat dan murah yang bisa dilakukan untuk sementara waktu.

"Terobosan (jangka pendek) yang paling rasional rekayasa lalu lintas. Tidak memerlukan biaya tapi harus ada kajian baik dan benar," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung Ricky Gustiadi menilai, survei yang dilakukan ADB tidak dilakukan secara detail. Survei tersebut hanya melihat ketersediaan transportasi publik tanpa melihat faktor lainnya.

"Kajian dari ADB indikator parameter variabel yang dibandingkan hanya dominan ketersediaan angkutan masal. Tapi indikator level of Service, waktu tundaan, panjang antrian, waktu tempuh, konsumsi bahan bakar dan pengurangan polutan gas buang tidak dilakukan survei," katanya.

Dia menyebut, saat ini penataan sistem transportasi publik masih berproses. Berbagai masalah kerap dihadapinya untuk menyelesaikan permasalahan yang ada terutama soal anggaran.

"Pembangunan sistem angkutan umum massal perlu anggaran triliunan. Pemkot Bandung memiliki keterbatasan anggaran. Mencari pola KPBU dan investasi juga tidak mudah," ucapnya.

Meski begitu, pihaknya akan tetap berupaya mendorong masyarakat agar mau beralih menggunakan transportasi publik. Karena berdasarkan target kinerja Dishub Bandung dalam RPJMD 2018-2023 harus mampu meningkatkan jumlah pengguna transportasi publik.

"Dishub Bandung dalam RPJMD dan Renstra target kinerja untuk 2018-2023 harus mencapai 25 persen menggunakan angkutan umum dari seluruh masyarakat Kota Bandung dalam melakukan mobilitas," ujarnya.


Simak juga video "Ganjil Genap Disebut Efektif, Anies: Kemacetan Berkurang" :

[Gambas:Video 20detik]


(mso/ern)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com