detikNews
Kamis 12 September 2019, 12:49 WIB

Gagal Panen Akibat Kekeringan, Buruh Tani di KBB Jadi Pemulung

Yudha Maulana - detikNews
Gagal Panen Akibat Kekeringan, Buruh Tani di KBB Jadi Pemulung Buruh tani di Kabupaten Bandung Barat beralih menjadi pemulung karena gagal panen. (Yudha Maulana/detikcom)
Bandung Barat - Rohaeni (65), warga Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), terpaksa beralih pekerjaan menjadi pemulung. Sebab, lahan yang ia garap telah lama mengering yang berujung gagal panen.

Ibu beranak tujuh itu tampak sibuk memilah-milah botol bekas di gubuk tak berdinding miliknya. Di sana terlihat juga beberapa karung berisi botol bekas dan kardus. "Sekarung ini paling hanya 3 kiloan," kata Rohaeni, Kamis (12/9/2019).


Pekerjaan ini telah ia dan suaminya lakoni sejak empat bulan lalu, tepatnya saat air Situ Ciburuy, yang menjadi sumber utama pengairan sawah garapan, surut.

"Gagal panen waktu bulan puasa, gagalnya dua kali. Pertama saat terserang hama, kedua karena kekeringan. Airnya dari Situ Ciburuy, biasanya airnya naik ke pengairan," katanya.


Ia mengaku merugi hingga Rp 6 juta akibat kekeringan ini. Uang itu adalah biaya yang gunakan untuk membeli benih dan pupuk tanaman padi. "Lahannya bukan punya saya, saya tidak punya lahan. Jadi sistemnya bagi hasil saja," tuturnya.

Menjadi pemulung rongsokan adalah pilihan terakhir yang ia punya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Memang uang yang ia dapat tak seberapa, hanya sekitar Rp 10 ribu per hari.
Untuk satu kilogram botol bekas dan kardus, pengepul membelinya dengan harga Rp 2.500. Per hari, ia dan suaminya hanya bisa mendapatkan sekitar 4 kilogram botol dan kardus.

"Kalau ada (pengepul) yang beli rongsokan baru bisa punya uang untuk makan. Saya juga jual kayu bakar. Yang penting kerja yang halal saja, alhamdulillah walau sangat pas-pasan," ucapnya.

Gagal Panen Akibat Kekeringan, Buruh Tani di KBB Jadi PemulungFoto: Yudha Maulana/detikcom
Sementara itu, Edi (70), suami Rohaeni, kerap mencari sampah hingga ke tebing. "Suka ada yang buang sampah sembarangan, makanya sampah plastiknya saya ambil. Kadang suka ada yang memberi uang juga," katanya.

Untuk lauk pauk makan sehari-hari, anak-anak pasangan lansia itu turut membantu. "Ya kalau nasi kami cari sendiri, lauk pauk dari anak-anak," katanya.
(tro/tro)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com