ADVERTISEMENT

Marak Pembangunan, Sawah di Bandung Menyusut 100 Ha Per Tahun

Mochamad Solehudin - detikNews
Kamis, 05 Sep 2019 14:10 WIB
Sawah abadi milik Pemkot Bandung di daerah Cibiru. (Tri Ispranoto/detikcom)
Bandung - Sebagai kota metropolitan, Bandung terbilang pesat pembangunan berbagai infrastrukturnya. Sayangnya, pembangunan yang dilakukan semakin menggerus ketersediaan lahan, termasuk sawah di kota berjulukan Parijs Van Java ini.

Kepala Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Bandung Gingin Ginanjar mengungkapkan lahan sawah di Kota Bandung setiap tahun memang mengalami penyusutan. Hal itu dampak dari banyaknya alih fungsi lahan untuk dijadikan tempat hunian atau lainnya.

"Memang salah satu kondisi, karakter kota, lahan itu tergerus oleh hunian," kata Gingin di Balai Kota Bandung, Kamis (5/9/2019).


Berdasarkan data yang ada, kata dia, total lahan sawah di Kota Bandung saat ini seluas 623 hektare. Sebagian besar penyebarannya berada di kawasan timur Kota Bandung, seperti Gedebage dan Cibiru.

"Memang sekarang lahan terbuka pertanian (kebanyakan) di timur. Seperti sawah abadi juga ada di timur," ucapnya.

Namun keberadaan lahan sawah itu saat ini terancam oleh banyaknya pembangunan yang dilakukan. Berdasarkan data yang dimilikinya, rata-rata penyusutan lahan sawah di Kota Bandung setiap tahun mencapai 100 hektare.

"Rata-rata berkurang 100 hektare per tahun. Adapun alih fungsi lahan cenderung untuk hunian," ucapnya.


Pihaknya juga mengaku cukup kesulitan mencari lahan untuk dijadikan sebagai sawah abadi. Saat ini, kata dia, sawah abadi yang dimiliki Pemkot Bandung seluas 32,2 hektare berada di daerah Cibiru.

"Sawah abadi sekarang kita punya 32,2 hektare. Mudah-mudahan bisa kita tingkatkan targetnya mencapai 50 hektare," ucapnya.

Gingin menambahkan, demi menjaga keberadaan sawah di Kota Bandung, perlu adanya regulasi yang mengatur. Salah satunya di RTRW atau regulasi lainnya agar keberadaan sawah di kota berpenduduk kurang-lebih 2,5 juta jiwa itu tidak hilang tergerus pembangunan.

"Dari sisi tata ruang memang harus dipastikan dulu. Harus amankan lahan yang ada. Seperti di dalam RTRW sawah abadi itu sudah dikunci peruntukannya. Sisi regulasi penting. Kalau tidak diatur, apalagi milik perseorangan, memang memilih yang menguntungkan," ujarnya. (mso/tro)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT