detikNews
Jumat 12 Juli 2019, 16:48 WIB

Lapas Cirebon Pernah Isolasi Napi Berperilaku Seks Menyimpang

Sudirman Wamad - detikNews
Lapas Cirebon Pernah Isolasi Napi Berperilaku Seks Menyimpang Ilustrasi penjara (Foto: Ilustrasi/Thinkstock)
Cirebon - Fenomena seks menyimpang gay dan lesbian di lingkungan lembaga pemasyarakatan (lapas) terungkap. Perilaku seks menyimpang pernah terjadi di lingkungan Lapas Kelas I Cirebon.

Kalapas Kelas I Cirebon Agus Irianto mengatakan salah satu faktor perilaku seks menyimpang itu disebabkan overkapasitas. "Akar persoalannya itu karena overkapasitas. Kaki ketemu kaki, kaki ketemu kepala saat tidur dan lainnya. Tidur berdempetan, bahkan gantian. Ini bisa menyebabkan menjadi tidak nyaman," kata Agus saat berbincang dengan detikcom di Lapas Kelas I Cirebon, Kota Cirebon, Jawa Barat, Jumat (12/7/2019).


Agus tak menampik dalam prinsip pemasyarakatan sebagian kemerdekaan narapidana (napi) terenggut. Namun, lanjut dia, napi masih mendapatkan hak seksual atau kebutuhan biologisnya.

Kondisi lapas yang overkapasitas dan kebutuhan biologis napi yang sulit tersalurkan, menurut Agus, menguatkan aktivitas seks menyimpang di penjara. "Hak seksual napi itu tidak dicabut. Kalau jadi napi apakah istri napi itu juga ikut merasakan pidana suaminya, terkait kebutuhan biologis. Kan tidak bisa begitu. Tentu harus ada hak untuk berhubungan dengan istrinya," kata Agus.

Ia mengaku sempat mengisolasi salah seorang napi yang terdeteksi berprilaku seks menyimpang. Selain mengisolasi napi tersebut, sambung dia, pihaknya memberikan bimbingan kerohanian atau agama terhadap napi itu. Tujuannya agar perilakunya kembali normal.

"Setahun saya tugas di sini, memang sempat ada informasi. Kita langsung isolasi (masuk kamar isolasi) dan berikan bimbingan. Saya isolasi karena khawatir menular," ujar Agus.


Selama ini pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap napi yang diindikasi berprilaku seks menyimpang. Ia tak menampik dalam kesehariannya prilaku antara napi yang normal dengan menyimpang sulit untuk dideteksi.

"Awalnya memang sulit. Tapi lama kelamaan kan ketahuan, pasti ada laporan. Baru kita berikan bimbingan," ucapnya.

Saat ditanya mengenai fasilitas bilik asmara, Agus mendukung adanya kebijakan tersebut. Namun, ia menegaskan, bilik asmara sejatinya harus digunakan untuk napi yang berstatus sudah menikah.

"Jangan sampai bilik asmara itu terkesan negatif. Jadi harus untuk napi yang sudah beristri atau suami," kata Agus.





Simak Juga 'Lapas Ciamis Over Kapasitas, Ada Seks Menyimpang?':

[Gambas:Video 20detik]



Simak Video "Bupati Garut Angkat Bicara soal 19 Bocah Berperilaku Seks Menyimpang"
[Gambas:Video 20detik]

(bbn/bbn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed