detikNews
Selasa 14 Mei 2019, 03:22 WIB

Semangat Dai Cilik Pemegang Rekor Meski Huni Gubuk di Pangandaran

Andi Nurroni - detikNews
Semangat Dai Cilik Pemegang Rekor Meski Huni Gubuk di Pangandaran Iko Saputra (Foto: Andi Nurroni/detikcom)
Pangandaran - Iko Saputra (11), bocah kelas empat SD di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, ini dikenal sebagai pemegang rekor dalam kompetisi pidato agama tingkat lokal. Kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan tak menghentikan kegigihannya menjadi anak berprestasi.

Di pentas kompetisi dai cilik tingkat kabupaten, Iko mencatatkan diri sebagai juara 1 selama empat tahun berturut-turut sejak ia kelas 1 SD. Tak sampai di situ, anak ini juga langganan ranking 1 di sekolahnya tanpa tertandingi.

Berbagai prestasi yang ditorehkan menjadi istimewa mengingat latar belakang keluarganya. Sang ayah, Dhika (40), hanyalah seorang buruh di pabrik pengolahan kelapa. Sementara sang ibu sendiri telah lama merantau menjadi TKW.

Sebagai warga perantauan asal Banten, ayah Iko tidak memiliki sanak famili di Pangandaran. Setelah warung sekaligus tempat tinggalnya terkena program penertiban pemerintah, Dhika membangun gubuk menumpang di ladang milik orang lain.

Setiap pagi, Iko diantar ayahnya bersekolah. Sang ayah sendiri lantas pergi bekerja di pabrik yang berjarak lumayan jauh dari tempat tinggal mereka.

"Saya pulang jam 16.00, Iko sudah di rumah, biasanya dia belajar, terus tidur," ujar sang ayah, Dhika kepada detikcom, Senin (13/5/2019).

Dhika mengaku melihat bakat kecakapan anaknya sejak kecil. Sejak saat itu, Dhika yang pernah mondok di Pesantren Buntet Cirebon mengaku bertekad mengajarkan kemampuan retorika kepada anaknya.

Dhika menceritakan, ia melatih anak semata wayangnya itu ceramah sejak TK. Saat kelas 1 SD, kata Dhika, Iko meraih prestasi pertamanya dengan menyabet juara 1 lomba da'i cilik tingkat kabupaten.

"Dari sana, Iko juara terus. Empat tahun juara 1 terus tingkat kabupaten. Di provinsi (Jawa Barat) juara 3, mewakili kabupaten," kata Dhika.

Bercerita didampingi sang ayah, Iko mengaku senang mendapat pengalaman sebagai dai cilik. Hal paling membanggakan, menurut Iko, adalah mewakili kampung halamannya, Pangandaran di tingkat provinsi.

Untuk satu kali mengikuti perlombaan, Iko mengaku berlatih dan menghafal naskah hingga satu minggu lamanya. Namun begitu, setiap naik panggung ia mengaku tetap saja sering grogi di bagian awal ceramah.

"Awalnya grogi, ke sananya enggak," ujar Iko.

Di sekolah, Iko mengaku paling suka pelajaran matematika. Setelah dewasa, ia sendiri bercita-cita menjadi dokter.

"Kan banyak orang sakit, aku mau nolongin orang-orang," ujar Iko.
(bbn/bbn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com