DetikNews
Senin 29 April 2019, 16:19 WIB

Mak Irah dan Cucunya yang Disabilitas Huni Rumah Dinding Koran

Yudha Maulana - detikNews
Mak Irah dan Cucunya yang Disabilitas Huni Rumah Dinding Koran Mak Irah dan cucunya tinggal di rumah berdinding koran di Kabupaten Bandung Barat. (Foto: Yudha Maulana/detikcom)
Bandung Barat - Seorang janda tua tinggal dalam bayang-bayang kemiskinan di Kampung Cilangari, RT 2 RW 16, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Wanita itu adalah Irah (80). Ditemui detikcom Senin (29/4/2019), Irah sedang mengambil rumput di belakang rumahnya. Ia pun mempersilakan masuk ke dalam rumah panggungnya yang terbuat dari kayu.


Di dalam rumahnya terlihat tambalan koran untuk menutupi lubang di dinding anyaman bambu. "Ya ditutupi pakai koran saja, karena tidak punya uang untuk memperbaiki. Soalnya dingin, udara masuk merembes ke sini," kata Irah di rumahnya.

Di usianya yang sudah sepuh, ibu beranak tiga itu tak mau bergantung kepada anak-anaknya untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Ia biasa berjualan bakul mengelilingi desa sekitar.
Mak Irah dan Cucunya yang Disabilitas Huni Rumah Dinding KoranFoto: Yudha Maulana
Dalam sehari, ia bisa mengantongi Rp 7.000 atau lima cangkir beras dari bakul yang ia jual. "Emak biasa mengambil bakulnya dari kampung sebelah, dari satu bakul, emak mengambil Rp 2.000," katanya.

Rutinitas itu tak bisa ia lakukan setiap hari, sebab produsen bakul yang ia kenal terkadang meliburkan produksinya. "Kalau misal begitu (libur), ya dicukup-cukup saja uangnya, ditabung untuk antisipasi enggak ada barang dagangan," katanya.

Soal anak-anaknya, Irah mengatakan ada yang merantau dan tinggal di lereng bukit sepertinya. Ada juga yang bekerja di luar kota dan kadang menjenguknya seminggu sekali.

Saat ini, Mak Irah tinggal bersama seorang cucu laki-lakinya berusia remaja yang memiliki disabilitas intelektual. "Kalau malam tidur sendiri di sini (ruang tengah rumahnya), kadang bersama dengan cucu di sana (di kamar), orang tuanya bekerja," ujarnya.

"Kalau emak inginnya ada pihak yang datang menangani cucu, kasihan dia, kadang suka mengurung diri di kamarnya terus," kata Irah.


Untuk menuju ke rumah Mak Irah perlu waktu 20 menit berjalan kaki. Sebab rumahnya tak bisa diakses oleh kendaraan bermotor. Di lembah itu, hanya ada empat rumah, salah satunya milik Irah. "Lumayan jauh kalau mau kemana-mana," katanya.

Selain itu, ia pun kesulitan untuk mengakses air bersih di atas lereng. Alhasil, ia harus berjalan sejauh 400 meter mengambil air dengan menenteng jeriken.

"Cuma sekarang, sudah ada orang yang peduli membangun sumur air di sana," katanya.
Mak Irah dan Cucunya yang Disabilitas Huni Rumah Dinding KoranFoto: Yudha Maulana
Irah mengaku tinggal di sana sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Awalnya, di sekitar rumah ada perajin bakul. Namun, sulitnya akses jalan, produsen bakul berhenti berproduksi.

"Dulu bisa menjual delapan bakul setiap hari, tapi sekarang mengambil dari tempat lain," ujar Irah.

Sejauh ini, ujar Irah, ia hanya memperoleh kartu keluarga sejahtera dari pemerintah. Namun, ia bingung untuk menarik bantuan tersebut. "Dulu mah berasnya diambil ke kantor desa, tapi sekarang sudah enggak bisa, enggak tahu kenapa," ujarnya.
(tro/tro)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed
BERITA TERBARU +