detikNews
Kamis 25 April 2019, 08:54 WIB

Round-Up

Menyoal Umur dan Luka Korban Saat Dianiaya Oleh Bahar Smith

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Menyoal Umur dan Luka Korban Saat Dianiaya Oleh Bahar Smith Bahar bin Smith usai menjalani sidang. (Foto: Dony Indra Ramadhan/detikcom)
Bandung - Bahar bin Smith mempersoalkan usia salah satu korban penganiayaannya, Muhammad Khoerul Aumam Al Mudzaqi alias Zaki. Namun upaya Bahar mempersoalkan Zaki terbantahkan oleh hakim.

Hal itu terjadi karena Bahar menganggap Zaki sudah lebih dari 17 tahun. Bahar menanyakan persoalan usia Zaki saat jaksa Kejari Bogor menghadirkan saksi Adi Kurniawan selaku petugas Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Bogor.


Dalam persidangan, pria berambut panjang pirang ini menanyakan ihwal akta kelahiran Zaki.

"Ini syarat mengajukan akta kelahiran apa?," kata Bahar dalam persidangan kasus penganiayaan di Gedung Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung, Jalan Seram, Kota Bandung, Rabu (24/4/2019).

"Harus ada form pengajuan dari kepala keluarga," jawab Adi.

"Bisa jadi kepala keluarga menambahkan umur?," tanya Bahar lagi.

"Ya tidak tahu rinci, karena sesuai yang dilampirkan," jawab Adi.

Belum mendapatkan jawaban yang diinginkan, pertanyaan Bahar dipotong ketua majelis hakim Edison Muhammad. Hakim menyebut bahwa pencatatan akta kelahiran berdasarkan pengakuan dari kepala keluarga.

"Data tetap dari keluarga, jadi Disdukcapil tidak tahu. Kalau keluarga bilang sekian, ya sekian. Disdukcapil bukan malaikat yang tahu kapan lahirnnya. Dia dapat data berjenjang," kata Edison.

"Terdakwa, saya mengerti. Data Zaki diinput tahun 2008, lahirnya tahun 2001, peristiwa tahun 2018. Apakah orang tua memperhitungkan akan terjadi ini? (kasus penganiayaan)," kata Edison menambahkan.

Usai diberi penjelasan, Bahar tak berucap apapun. Bahar juga tak menanggapi atau menanyakan ulang dari pemaparan majelis hakim itu.


Dalam persidangan, jaksa juga menghadirkan ahli forensik. Dr Abe Umaro yang berdinas di RS Polri. Ia adalah dokter yang menangani visum salah satu korban, Cahya Abdul Jabar.

Dalam penjelasannya, Abe menyebut ada luka-luka di bagian kepala korban.

"Ada pendarahan, seperti bercak di bola mata bagian putihnya, ada bercak darah," ucap Abe.

Abe menyatakan pendarahan tersebut terlihat saat pertama kali Cahya dibawa penyidik ke RS Polri pada 5 Desember 2018. Saat itu, kondisi wajah korban memang mengalami luka-luka.

Abe lantas melakukan visum terhadap Cahya. Hasil visum menunjukkan ada bekas luka-luka pada wajah Cahya.

"Kesimpulan yang didapatkan ditemukan luka memar di kelopak mata kiri, pendarahan di selaput bening (bola mata). Luka akibat benda tumpul," kata Abe.

Seperti diketahui dalam sidang ini Bahar dijerat dengan pasal berlapis. Salah satunya adalah pasal kekerasan terhadap anak. Pasal tersebut diterapkan lantaran saat kejadian umur korban masih di bawah umur.

Dalam dakwaan, Bahar dijerat Pasal 333 ayat 1 dan/atau Pasal 170 ayat 2 dan/atau Pasal 351 ayat 1 jo Pasal 55 KUHPidana. Jaksa juga mendakwa Habib Bahar dengan Pasal 80 ayat (2) jo Pasal 76 C UU No 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
(dir/tro)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed