DetikNews
Selasa 26 Maret 2019, 18:50 WIB

Lahan Kritis di DAS Citarum Mencapai Ratusan Ribu Hektare

Mochamad Solehudin - detikNews
Lahan Kritis di DAS Citarum Mencapai Ratusan Ribu Hektare Sungai Citarum (Foto: Antara Foto/Raisan Al Farisi)
Bandung - Kondisi lahan kritis di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan peta yang dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, luasan lahan kritis di sekitar DAS Citarum mencapai ratusan ribu hektare.

Kepala Dinas Kehutanan Jawa Barat Epi Kustiawan menjelaskan ratusan ribu hektar lahan kritis itu terbagi dalam dua bagian. Ada yang masuk dalam kawasan hutan negara seluas 52.426,04 hektare dan di luar kawasan atau yang dikelola oleh warga serta pihak lainnya seluas 147.486,71 hektare.

"Jadi totalnya lahan kritis di sekitar DAS Citarum yang tersebar dari Cisanti sampai Muara Gembong ada 199.794,21 hektare," kata Epi saat ditemui di Kantor Dinas Kehutanan Jabar, Kota Bandung, Selasa (26/3/2019).


Dia melanjutkan, dari total lahan kritis khususnya yang berada di luar kawasan tersebut pihaknya bertanggung jawab dalam upaya penyelamatan seluas 43.229,95 hektare. Sementara sisanya berada di bawah kewenangan Dinas Pertanian seluas 1.716,68 hektare dan Perkebunan seluas 83.162,38 hektare.

"Penanganan itu dikumpulkan oleh tiga sektor. Yang ada di kehutanan itu ada 43 ribu dari total lahan kritis di luar kawasan hutan negara seluas 147 ribu hektare. Kemudian perkebunan 1.716 hektare dan terluas di sektor pertanian 83 ribu hektare," ucapnya.

Penyelamatan Melalui Agroforestri

Demi menyelamatkan kondisi lahan kritis tersebut, pihaknya telah menyiapkan sejumlah program. Salah satunya melalui program Agroforestri atau sistem penggunaan lahan yang mengkombinasikan pepohonan dengan tanaman pertanian.

"Bagi saya lahan kritis 43 ribu hektar itu bisa jadi potensi. Jangan ditakuti tapi bagaimana merubah masalah menjadi potensi. Salah satunya dengan membangun Agroforestri," kata Epi.

Menurutnya, Agroforestri bisa menjadi salah satu solusi yang bisa diterapkan di tengah masyarakat. Karena selain bisa menyelamatkan lahan kritis juga bernilai ekonomi yang cukup menjanjikan.

"Tanaman pokok tetap kayu yang bisa cepat tumbuh dan di dalamnya ditanami juga tumbuhan pertanian. Dengan begitu masyarakat akan tetap mendapat keuntungan," ucapnya.


Saat ini, menurut Epi, pihaknya terus menyosialisasikan sistem ini kepada masyarakat. Karena dia mengaku tidak mudah agar masyarakat mau menerapkan sistem ini.

"Kita jelaskan ke masyarakat. Hutan milik itu pemiliknya banyak mencapai ribuan. Kita akan rangsang agar mereka tertarik, kemudian nanti minat, mencoba, setelah mencoba tidak ada masalah baru mereka (masyarakat) akan mengadopsi," tuturnya.

Selain itu, pada tahun ini pihaknya tengah menyiapkan sistem ini sebagai percontohan. "Kita akan buat demplot (penyuluhan kepada petani dengan membuat lahan percontohan) luasannya 10 hektare. Termasuk di KBU juga akan kita coba. Ini akan ditanami dengan tanaman cepat tumbuh ada nilai ekonominya dan pasar siap," ujar Epi.
(mso/bbn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed