Kiai Buntet Cirebon Dukung Wacana Fatwa Haram Game PUBG

Sudirman Wamad - detikNews
Jumat, 22 Mar 2019 18:15 WIB
Ilustrasi game PUBG. (Foto: shutterstock)
Cirebon - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jabar mewacanakan fatwa haram permainan Player Unknown's Battlegrounds (PUBG). Pimpinan Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Buntet Pesantren Cirebon KH Adib Rofiuddin mendukung fatwa haram untuk game berbasis online tersebut.

Menurut Adib sejumlah kiai Buntet sudah lama mempertimbangkan fatwa haram game PUBG. Menurut Adib, PUBG bisa membuat orang lupa terhadap waktu.

"Ya jelas mendukung (soal fatwa haram). Dari dulu sudah pernah dibahas game-game itu. Perkaranya itu karena menyita waktu, salat lupa dan lain-lainnya jadi lupa. Membuat orang jadi lalai waktu," kata Adib saat berbincang dengan detikcom di Pondok Buntet Pesantren Cirebon, Jabar, Jumat (22/3/2019).


Adib mengatakan selain membuat orang lalai terhadap waktu, PUBG bisa mempengaruhi psikologis seseorang. Menurutnya, orang yang memainkan PUBG bukan tidak mungkin menirukannya di dunia nyata, karena terlalu terobsesi.

"Apalagi kekerasan. Jelas ini bisa berpengaruh terhadap psikologis, orang bisa menirunya. Kemudian, game itu bukan sekadar game, di dalamnya ada yang lain, bisa jadi perjudian dan lainnya," katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah tokoh mendukung pertimbangan fatwa haram terhadap PUBG. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mendukung wacana fatwa haram game ini. Dia menganggap langkah yang dilakukan MUI semata-mata untuk melindungi masyarakat.

"Selama tujuannya untuk melindungi masyarakat, melindungi umat saya selalu mendukung," kata Emil, sapaan akrab Ridwan, di Gedung DPRD Jabar.


Ketua DPRD Jabar Ineu Purwadewi Sundari ikut angkat bicara mengenai wacana Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jabar mengeluarkan fatwa haram game PUBG. Dia menilai fatwa itu perlu kalau game berbasis online tersebut bisa menginspirasi untuk melakukan kekerasan.

"Permainan atau game dan sebagainya terus menimbulkan inspirasi melakukan kejahatan saya kira perlu," ujarnya. (bbn/bbn)