detikNews
Selasa 05 Maret 2019, 09:19 WIB

Pendakian Maut ABG Indramayu, Tanpa Restu Ortu hingga Nekat Bonceng 3

Sudirman Wamad - detikNews
Pendakian Maut ABG Indramayu, Tanpa Restu Ortu hingga Nekat Bonceng 3 Pemakaman tiga pendaki ABG asal Indramayu/Foto: Sudirman Wamad
Indramayu - Castuni (43) tak kuasa membendung air matanya saat jenazah anaknya, Ferdi Firmansyah (13) digotong menuju pemakaman. Seruan tahlil mengiringi setiap tetes air mata Castuni.

"Lailahaillallah..lailahaillah..lailahaillah..," ucap sejumlah pelayat saat jenazah Ferdi Firmansyah digotong menuju pemakaman umum Desa Tugu Kidul, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Senin (4/3/2019).

Maut menjemput Ferdi bersama rasa penasarannya. Ya, Ferdi nekat mendaki karena ingin mengetahui puncak Gunung Tampomas, Kabupaten Sumedang. Ferdi tak sendiri. Tampomas menjadi saksi, dua teman Ferdi, yakni Lucky Parikesit (13) dan Agip Trsakti (15) menghembuskan nafas terakhirnya. Hipotermia menyerang ketiganya.
Ketiga ABG asal Kota Mangga itu nekat mendaki gunung dengan perlengkapan yang kurang memadai dan pengalaman yang minim. Tak hanya itu, restu orang tua pun diabaikan. Ya, para remaja itu nekat berangkat mendaki tanpa mendapat izin dari orang tuanya.

Menurut Castuni, Ferdi, Lucky dan Agip nekat berangkat ke Tampomas setelah Subuh pada Sabtu (2/3/2019). Sebelum berangkat, Castuni tak menampik sempat adu mulut dengan Ferdi. Castuni melarang Ferdi mendaki gunung.

"Saya larang. Saya tidak mengizinkan. Karena tidak sama sekolahnya, kalau sama gurunya kan ada yang jaga," kata Castuni saat berbincang dengan detikcom di kediamannya di Gang BTM Desa Tugu Kidul, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Mata Castuni berkaca-kaca saat berbincang tentang Ferdi. Terlebih lagi, lanjut Castuni, Ferdi tak memiliki pengalaman untuk mendaki gunung. "Baru pertama kali (mendaki)," ucapnya.

Castuni mengatakan Ferdi dan Lucky penasaran ingin mendaki setelah mendengar cerita dari teman sekolahnya.

Hal senada disampaikan Darlim (47), ayah dari Lucky. Darlim mengaku Lucky nekat mengabaikan omongannya demi menuruti nafsunya. Lucky memiliki hasrat yang menggebu-gebu untuk mendaki gunung. Bahkan, Lucky nekat berbohong kepada ayahnya.

"Waktu izin ke saya itu tidak mendaki, tapi izinnya itu pengen tur sama temennya. Saya tidak memberi izin," kata Darlim saat berbincang dengan detikcom usai pemakaman anaknya di tempat pemakaman Desa Tugu Kidul, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Senin (4/3/2019).

Darlim melarang Lucky. Namun, Lucky juga sempat meminta izin ke ibunya, Surniti (44). Jawaban yang didapat Lucky pun sama seperti yang dikatakan ayahnya. Surniti melarang Lucky.

"Sempat izin ke saya. Tapi saya larang. Karena masih bocah, sekolahnya juga baru kelas VII SMP. Ibunya juga melarang," kata Darlim.

Lucky rupanya mencari kesempatan untuk berangkat ke Tampomas. Motor bebek milik orang tua Lucky pun dibawa. Perjalanan dari Indramayu menuju Tampomas ditempuh menggunakan satu motor, ya motor milik orang tua Lucky. Orang tua ketiga remaja itu mengaku tak merasakan firasat apapun terkait pendakian maut yang menimpa anaknya.

"Saya pikir anak saya tidak ikut. Berangkatnya saya tidak tahu, katanya sih pagi-pagi. Motor yang dipakai itu punya Lucky," kata Darlim.

Sama halnya dengan Ferdi, dikatakan Darlim, Lucky baru pertama kali mendaki gunung. Selama ini, menurut Darlim, Lucky hanya main di sekitar rumah.

"Ya saya tahu pos-pos bermainnya. Di sini-sini saja, di biliar biasanya. Dekat rumah," kata Darlim.

Minggu (3/3/2019), ketiga remaja itu dikabarkan tewas dengan kondisi kaku di dalam tenda. Baju ketiga ABG tersebut basah.

"Enggak bawa pakian ganti, jaket atau sleeping bag," kata Humas dan Protokoler Basarnas Kantor SAR Bandung Joshua Banjanahor.
(ern/ern)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed