detikNews
Jumat 01 Maret 2019, 10:57 WIB

Usai Kabur Hindari 'Kawin Gantung', Hilda Masih Shock

Deden Rahadian - detikNews
Usai Kabur Hindari Kawin Gantung, Hilda Masih Shock Hilda Fauziah (Foto: Istimewa)
Tasikmalaya - Hilda Fauziah (18), gadis cantik warga Kampung Cijambu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, akhirnya kembali berjumpa orang tuanya. Keberadaan Hilda diungkap Kasatreskrim Polres Tasikmalaya AKP Pribadi Atma bersama anggotanya di Bandung, Kamis (28/2).


Hilda yang takut 'kawin gantung', tradisi perjodohan di kampungnya, memilih kabur dari rumah orang tuanya di Tasikmalaya. Dia meninggalkan rumah selama tiga bulan 24 hari. Hilda diketahui akan dinikahkan dengan pria satu kampungnya. Jelang hari pernikahan, gadis tersebut minggat.

"Saya ke rumah kontrakan Hilda (di Bandung) dan temukan dia. Alhamdulillah Hilda mau diajak pulang walau harus ada orang tuanya," ungkap Pribadi, Jumat (1/3/2019).

Hilda ternyata tidak mengetahui dalam pencarian polisi. Bahkan hilangnya Hilda ini muncul di media massa dan media sosial.

"Hilda enggak lihat tv, enggak lihat juga medsos. Jadi dia enggak tahu kalau ibunya dan polisi mencarinya," ucap Pribadi.


Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya Ato Rinanto menyebutkan saat ini kondisi Hilda masih shock. Rencananya Senin mendatang KPAID mendalami penyebab pasti Hilda lari dari rumah.

"Ini Hilda masih shock, walau fisiknya sehat. Senin depan kita dalami lagi motif dia lari dari rumah," ujar Ato.

Pascaditemukan dan diboyong pulang ke Tasikmalaya, Hilda langsung dibawa keluarganya ke rumah.


Berdasarkan investigasi di lapangan, KPAID menemukan terdapat tradisi turun temurun terkait pernikahan anak gadis di Kampung Cijambu, termasuk menimpa Hilda. Anak gadis di kampung tersebut sudah dilamar pria sejak lulus dari sekolah dasar (SD).

Meski tidak terjadi pernikahan dini, keluarga perempuan tidak akan lagi menerima pria lain jika disepakati kedua belah pihak. Temuan KPAID, ada tradisi anak gadis warga Cijambu hanya menikah dengan pria keturunan warga Cijambu, tidak dengan daerah yang lain.

"Jadi temuan kami ada tradisi lokal yang terjadi di tengah masyarakat kampung Cijambu. Anak begitu lulus SD langsung ditandai oleh pria yang menyukainya. Kalau sudah disepakati, anak gadis ini tidak bisa pindah ke lain hati, walau pun tidak dinikahkan saat di bawah umur," ujar Ato.

"Istilah kami ya 'kawin gantung', ini ternyata terjadi di tengah masyarakat kita," ucap Ato menambahkan.
(bbn/bbn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com