Ridwan Kamil Bangun Dilan Corner, Pengamat: Kebijakan Lebay

Mochamad Solehudin - detikNews
Selasa, 26 Feb 2019 15:33 WIB
Foto: Veynindia Pardede/ detikHOT
Bandung - Pembangunan Dilan Corner atau Sudut Dilan yang digagas Gubernur Jabar Ridwan Kamil mendapat sorotan dari berbagai kalangan. Pembangunan 'monumen' untuk sebuah film di area Gor Saparua, Kota Bandung itu dinilai berlebihan dan tidak ada korelasi dengan budaya Jawa Barat.

"Saya enggak mengerti kebijakan apa bangun Pojok Dilan itu. Saya tidak menemukan alasan, menemukan momentum, mengapa harus dibangun Pojok Dilan itu," kata pengamat komunikasi politik UPI Karim Suryadi, saat dihubungi, Selasa (26/2/2019).

Proses seremoni peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan Dilan Corner sudah dilakukan pada Minggu (24/2) lalu. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bersama Menteri Pariwisata Arief Yahya dan para pemain film Dilan 1991 secara simbolis meresmikan pembangunan Dilan Corner di area GOR Saparua , Kota Bandung.

Karim mengaku tidak faham pesan apa yang ingin disampaikan Ridwan Kamil dengan membangun 'monumen' tersebut. Tidak bermaksud merendahkan film Dilan, tapi dia tidak melihat korelasi cerita film itu dengan konteks Jawa Barat.

"Setahu saya Dilan isi ceritanya hanya pertemanan remaja biasa. Apakah secara kasat mata pesannya itu menghentikan Dilan sebagai ketua geng motor atau apa? Tapi menurut saya terlalu berlebihan kalau sampai dibangun Pojok Dilan," ucapnya.



Dia menyarankan Emil sapan akrab Ridwan Kamil agar lebih bijak dalam mengambil keputusan. Apalagi, kata dia, Emil sebagai pejabat publik harus bisa memilih kebijakan yang benar-benar berdampak positif untuk kemajuan Jawa Barat ke depan.

"Jadi boleh-boleh saja, tapi harusnya sebagai pejabat publik bisa memilih film yang mengandung pesan-pesan monumental. Sekarang saya tanya hubungan film Dilan dengan Jabar apa? Sebutlah produk literasi, tapi menurut saya tidak sedikit novel jadi film. Jadi menurut saya itu alasan yang mengada-ada," katanya.

Selain itu, Karim juga meminta agar Ridwan Kamil tidak mengeluarkan kebijakan yang kontra produktif dengan pembangunan Jabar. Pihaknya lebih mendukung agar Ridwan Kamil menyiapkan program yang melibatkan generasi muda dalam menghadapi persaingan global yang semakin ketat.

"Alih-alih jadi bintang film, bangun Pojok Dilan, lebih baik menyiapkan program yang melibatkan anak-anak muda. Apa garapan mereka dalam 15-20 tahun ke depan untuk menghadapi perubahan. Sudah cukup terlalu main-main bersolek taman kayak gitu. Dia sekarang sudah jadi gubernur. (Pembuatan Dilan Corner) terlalu mengada-ada," ujarnya.



Senada dengan Karim, pengamat kebijakan publik Unpar Asep Warlan juga mengaku heran dengan keputusan Ridwan Kamil dalam pembuatan Dilan Corner. Padahal menurutnya ada tokoh lain yang lebih layak dibuatkan monumen semacam itu, ketimbang sosok fiktif seperti Dilan.

"Bagi saya agak aneh kenapa mesti Dilan. Padahal ada tokoh-tokoh lain, tokoh sejarah, tokoh olah raga itu kan banyak, tidak sekedar tokoh fiktif," katanya, saat dihubungi.

Asep juga tidak melihat makna atau pesan yang coba disampaikan oleh Gubernur dalam pembuatan Dilan Corner. Dia mempertanyakan apa manfaat yang besar yang timbul dari pembangunan 'monumen' itu.

"Karena penamaan sebuah bangunan, tempat itu ada tiga hal. Pertama karena mendapat pengakuan, manfaat dan pertalian sejarah hari ini dan ke depan. Nah ini ketiganya menurut saya lemah. Manfaat juga apa dan apa hubungan dengan sejarah. Jadi menurut saya agak lebay," ucapnya.



Meski begitu, dia memahami keinginan gubernur dalam mengapresiasi sebuah karya film dalam negeri. Apalagi Bandung menjadi lokasi syuting film tersebut.

"Memang ada tiga hal kalau dari sisi gubernur. Beri apresiasi, terus syuting di Bandung dan kecintaan gubernur terhadap film itu," ujarnya.

Sebelumnya saat peresmian, Ridwan kamil mengatakan Dilan Corner nantinya akan menjadi ruang bagi milenial meningkatkan budaya literasi di Bandung. Seperti halnya kesuksesan novel Dilan yang diadaptasi menjadi sebuah film.

"Jadi nanti tempat ini dipakai secara positif untuk membahas sastra, novel, mendiskusikannya seperti inspirasi film Dilan dikonversi menjadi film. Mudah-mudahan ingat Dilan, ingat kesuksesan literasi dan film," tutur dia.

Seperti diketahui, Ridwan Kamil juga turut main di film Dilan, baik Dilan 1990 maupun sekuelnya Dilan 1991, yang akan tayang serentak di bioskop di seluruh Indonesia 28 Februari. (mso/ern)