Dimakan Usia dan Diguyur Hujan Deras, Atap 2 Kelas SMP Cirebon Ambruk

Sudirman Wamad - detikNews
Selasa, 22 Jan 2019 18:51 WIB
Foto: Sudirman Wamad
Cirebon - Atap dua ruangan kelas SMPN 12 Kota Cirebon ambruk usai hujan deras mengguyur. Diduga kuat bangunan kelas sudah lapuk termakan usia. Akibatnya phroses kegiatan belajar mengajar pun terganggu.

Kepala SMPN 12 Kota Cirebon Iis Nuraeni mengatakan dua ruangan kelas yang ambruk tersebut merupakan kelas VIII G dan VII H. Menurut Iis, pihak sekolah sudah mengantisipasi kejadian tersebut dengan mengosongkan ruangan kelas. Mengingat kondisi ruangan kelas itu sudah lapuk.

"Kejadiannya Sabtu (19/1) dini hari kemarin. Sebelum kejadian memang hujan besar, ambruknya itu setelah hujan. Kemudian, kondisi ruangannya juga sudah lapuk," kata Iis saat berbincang dengan detikcom di SMPN 12 Kota Cirebon, Jawa Barat.

Iis menyebutkan selain dua ruangan yang ambruk, satu ruangan kelas lainnya yakni kelas VII A terancam ambruk. "Ada tiga sebenarnya yang terancam ambruk, dua di antaranya sudah ambruk. Yang kelas VII A sudah kita kosongkan juga, khawatir ambruk seperti dua kelas ini," kata Iis.

Dimakan Usia dan Diguyur Hujan Deras, Atap 2 Kelas SMP Cirebon AmbrukFoto: Sudirman Wamad


Lebih lanjut, Iis mengaku kondisi tersebut membuat proses belajar mengajar mengalami kendala. Pasalnya, siswa di tiga kelas itu disebar ke kelas lain. Akibatnya, suasa belajar mengajar tak kondusif.

"Kelas VII G kita pindahkan ke ruangan laboratorium IPA. Untuk VII H digabung dengan kelas VII E, F, dan G. Sementara VII A digabung dengan B, C, dan D," ucapnya.

Iis mengatakan mayoritas kondisi ruangan kelas di SMPN 12 Kota Cirebon sudah lapuk. Pasalnya, lanjut Iis, sejak 1992 belum ada rehabilitasi ruangan kelas.

"Kalau menambah bangunan kelas ada, kalau rehab belum dilakukan sejak 1992. Saya sudah ajukan permohonan rehab ke Disdik Kota Cirebon," katanya.

Dimakan Usia dan Diguyur Hujan Deras, Atap 2 Kelas SMP Cirebon AmbrukFoto: Sudirman Wamad


Di tempat yang sama, salah seorang siswa, Nilatul Muna mengaku khawatir dengan adanya kejadian tersebut. Nila mengaku merasa tak nyaman mengikuti proses belajar mengajar lantaran tak memiliki kelas.

"Ya ikut gabung sama kelas lain. Kurang nyaman, kan siswanya jadi terlalu banyak. Harapannya segera diperbaiki, biar bisa punya kelas sendiri," kata siswa kelas VIII G itu.

(ern/err)