detikNews
Kamis 10 Januari 2019, 15:58 WIB

Penggelapan Pajak Puluhan Mobil Pupuk Kujang Terungkap dari Sambara

Luthfiana Awaluddin - detikNews
Penggelapan Pajak Puluhan Mobil Pupuk Kujang Terungkap dari Sambara Aplikasi Sambara. (Foto: Istimewa)
Karawang - GS (33), mantan karyawan PT Pupuk Kujang Cikampek (PKC) mengemplang pajak puluhan kendaraan operasional perusahaan BUMN tersebut. Kasus itu terungkap berkat aplikasi Samsat, Sambara (Samsat Mobile Jawa Barat).

Kapolsek Karawang Kota Kompol Iwan Ridwan Saleh mengungkapkan, sebelum dipecat, GS bertugas mengurus kendaraan operasional PKC sejak 2015. "Dia juga diberi tugas membayar pajak kendaraan operasional. Tapi dia tidak bayarkan semuanya. Uang Pajak Kendaraan Pupuk Kujang ia gelapkan," ucap Iwan kepada detikcom saat ditemui di kantornya, Kamis (10/1/2019).

Penggelapan itu diketahui oleh para sopir kendaraan operasional PKC. Diduga kuat, penggelapan itu berlangsung sejak tahun 2015. "Saat mereka mengakses aplikasi Sambara, muncul informasi, jika kendaraan yang mereka pakai belum bayar pajak hingga tiga tahun," kata Iwan.

"Uang pajak yang digelapkan mencapai sekitar Rp 400 juta. Setiap tenggat waktu pembayaran pajak, rata-rata ia mengurusi 20 unit, yang digelapkan sekitar 10 atau 12 mobil," Iwan menambahkan.


Berdasarkan hasil pemeriksaan, kata Iwan, GS mengaku menggunakan uang tersebut untuk foya - foya. Sekali hiburan, ungkap Iwan GS bisa menghabiskan uang hingga Rp 20 juta. "Pelaku mengaku punya gaya hidup konsumtif," tuturnya.

Lantaran mengemplang pajak, kata Iwan, GS ketar-ketir mencari cara membayar pajak kendaraan operasional PKC. Alhasil, ia mencoba mengelabui pengusaha swasta dalam rencana lelang kendaraan bekas.

"Sebetulnya itu lelang tertutup, khusus karyawan. Tapi pelaku menawarkan ke orang luar dan mengiming-imingi korban jika mereka bakal menang lelang," kata Iwan.

Pria yang pernah 8 tahun bekerja di Pupuk Kujang itu kemudian membawa puluhan STNK kendaraan operasional PKC ke rumah F, seorang pengusaha asal Karawang kota. Kepada F, GS mengabarkan jika ada peremajaan kendaraan di Pupuk Kujang dengan total 24 unit mobil operasional dan 30an unit mobil layak pakai. "F dijanjikan GS menang asal menyerahkan uang," kata dia.

F lalu mengajak 23 rekannya untuk ikut dalam bisnis belakang meja itu. Ke-24 orang tersebut menghimpun uang hingga Rp 1,3 miliar dan menyerahkannya kepada GS secara bertahap dimulai sejak Juni hingga Oktober 2018.

"Lelang belum dilakukan karena masih butuh surat keputusan dewan komisaris Pupuk Kujang," kata dia.

Saat ini, Polsek Karawang Kota masih mendalami kasus tersebut. Iwan mengungkapkan sudah memeriksa beberapa kepala seksi dan manajer Pupuk Kujang.

"Pemeriksaan baru di level kasi dengan manajer. Kalau ada petunjuk dan bukti kuat aliran dana ke direksi, tak menutup kemungkinan kita akan periksa ke level atas manajemen," tandas Iwan.
(ern/ern)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com