Kisah Ayah-Anak yang Selamat saat Digulung Tsunami

ADVERTISEMENT

Kisah Ayah-Anak yang Selamat saat Digulung Tsunami

Wisma Putra - detikNews
Senin, 24 Des 2018 10:29 WIB
Ayah dan anak yang selamat saat diterjang gelombang tsunami di Pantai Carita, Banten. (Foto: Wisma Putra/detikcom)
Sumedang - Korban selamat tsunami Selat Sunda tiba di rumahnya masing-masing yang berada di Kacamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Pantauan detikcom, Senin (24/12/2018), korban selamat tiba diantar bus bercat putih pada pukul 07.30 WIB.

Kedatangan para korban diwarnai isak tangis keluarga dan tetangga. Satu persatu korban turun dari dalam bus. Isak tangis tak terbendung, para korban langsung disambut oleh keluarganya.


Para korban mengalami memar, lecet dan luka robek di setiap bagian tubuh akibat benturan dengan benda tumpul. Mereka luka robek di bagian kaki dan kepala.

Salah satu korban selamat, Devin Herginsa (28), mengisahkan detik-detik tubuhnya digulung gelombang tsunami yang melanda Pantai Carita, Banten. "Ketinggian air sekitar lima sampai tujuh meter," katanya.

Pada waktu kejadian, Sabtu (22/12) malam, keluarga besar Devin tengah berkumpul di salah satu vila di kawasan Pantai Carita. Ada yang istirahat di dalam vila, sisanya membakar ikan.

"Vila kita kedua dari bibir pantai, berjarak sekitar 100 meter. Jadi pas tsunami terjadi, vila kami diterjang gelombang tsunami," ucap Devin.

Menyadari tsunami terjadi, dia berteriak sambil menyelamatkan sang anak, Raka Putra (3). Sedangkan istrinya, Siti (27), terpisah lantaran tidak berbarengan.

"Saya teriak-teriak 'ada tsunami...tsunami'. Lalu air sudah menghantam tubuh saya. Kejadiannya sekitar Pukul 21.30 WIB. Saya tidak di pantai, sedang di vila. Saya sadar-sadar sudah terhantam ke bus dan pohon," ujarnya.

Dia mengangkat anaknya ke atas meski tubuh terseret air. "Saya langsung nyelamatin anak saya. Anak enggak saya lepas. Anaknya terus saya pegang, saya juga enggak sadar keluarga ada dimana. Bahkan istri juga pisah karena pada waktu kejadian tidak bersama. Dari pagi bertemu dengan istri jam dua siang (kemarin)," tutur Devin.

Saat air surut, dia dan anaknya bergegas ke dataran tinggi. Sejumlah orang panik sambil berlarian.

"Saya langsung lari, untuk menyelamatkan diri," kata Devin.

Devin berujar sebelum kejadian tsunami itu tidak ada gempa dan tanda peringatan berupa sirine. "Tidak ada, cuman ada gemuruh seperti pesawat," ucapnya.


Dia mengatakan para korban selamat rata-rata mengalami luka robek. Empat orang yang merupakan anggota keluarga Devin yaitu Ita Purnama Sari (27), Rida (40), Feni (30) dan Fico (4) tewas karena tertimpa reruntuhan bangunan.

"Ada yang sedang tidur, menonton tv dan di ruang tengah. Mereka tidak keburu menyelamatkan diri," ujar Devin.



Simak juga video 'Korban Meninggal Tsunami Banten-Lampung Capai 229 Orang':

[Gambas:Video 20detik]

(bbn/bbn)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT