Curhat WN Irak di Bandung yang Diancam Bui Akibat Persoalan Asmara

Dony Indra Ramadhan - detikNews
Rabu, 14 Nov 2018 14:22 WIB
Foto: Dony Indra Ramadhan
Bandung - Warga negara Irak, Razwan Ahmed Ismael (29) terancam dibui lantaran melebihi batas tinggal di Indonesia. Razwand blak-blakan soal lika liku perkara yang menimpanya itu.

Ditemui detikcom di Rumah Tahanan (Rutan) Klas 1 Kebonwaru Bandung, Rabu (14/11/2018), Razwand menceritakan kisahnya. Semua berawal dari perkenalannya dengan seorang perempuan Indonesia asal Bandung berinisial LE di media sosial Facebook pada tahun 2016.

Keduanya menjalin komunikasi yang intens melalui chat Facebook maupun aplikasi perpesanan WhatsApp. Razwand mulai jatuh cinta kepada LE karena terbuai oleh ucapan-ucapannya.

"Awalnya dia bilang cinta saya tidak peduli, dia suka saya tidak peduli. Terus dia bilang kalau dia single dan mau menikah, saya terbang," ucap Razwand.



Keduanya akhirnya pacaran. Hingga suatu ketika, LE terus meminta Razwand untuk menemuinya dan menikahinya dengan datang ke Indonesia. Februari 2018, Razwand akhirnya datang ke Indonesia untuk bertemu dan menikahi LE.

Permasalahan muncul saat dia baru mendarat di Bandara Husein Sastranegara. LE yang kala itu menjemput Razwand akhirnya berterus terang bahwa dia sudah menikah dan memiliki suami bahkan memiliki anak.

"Saat makan di sebuah restoran, dia bilang punya suami, saya kaget. Tapi dia bilang kalau dia sudah tidak serumah dan mau bercerai. Satu jam kemudian, dia bilang lagi kalau dia punya anak. Saya merasa tertipu. Tapi karena dia bilang mau bercerai, saya enggak masalah, saya percaya dia," tuturnya.

Di Bandung, Razwand menyewa satu unit apartemen. Hunian itupun atas rekomendasi dari LE. Seminggu berada di apartemen itu, Razwand lantas pindah ke kos-kosan juga hasil rekomendasi dari LE.

Uang yang dibawa Razwand dari Irak menipis. Dia pun meminta bantuan kepada LE untuk mencarikan pekerjaan. LE yang mengetahui keahlian Razwand, akhirnya mengarahkan Razwand bekerja di sebuah pangkas rambut di daerah Cijambe. Razwand pun akhirnya pindah menyewa kos di daerah tersebut.

"Dua bulan saya bekerja enggak pernah dapat uang sepeserpun. Setiap minta hak saya ke pemilik (salon), bilangnya sedang ada masalah di bank. Saya dikasih Rp 500 ribu itu untuk perpanjangan kosan. Rp 1,5 juta lagi belum pernah dibayarkan," katanya.

Suatu ketika saat dirinya tengah melayani konsumen, dia didatangi oleh petugas imigrasi Bandung. Razwand ditanya perihal alasan tinggal hingga dicek dokumen izinnya. Berdasarkan pemeriksaan imigrasi Bandung, Razwand menyalahi aturan dengan melebihi batas tinggal di Indonesia.

Razwand dibawa oleh petugas. Petugas imigrasi melakukan detensi terhadap Razwand hingga kasusnya masuk ke meja hijau. Razwan didakwa atas dalam Pasal 122 huruf a Undang-undang RI nomor 5 tahun 2011 tentang keimigrasian. Dari dakwaan tunggal itu, jaksa telah menuntut Razwand hukuman 7 bulan bui.

Niat Razwand untuk bahagia dengan orang Indonesia pun sirna. Kekasih pujaannya tak kunjung bercerai dengan suami untuk menikah dengannya. Razwand justru kini harus berhadapan dengan hukum dan menjalani hari-harinya di balik jeruji besi.

"Satu bulan, dua bulan dia (LE) meminta saya sabar sampai saat ini saya tidak menikah, sampai saya di sini (penjara), bye bye," kata dia.

Keinginan Razwand saat ini hanya satu, dia ingin pulang ke negara asalnya. "Saya ingin pulang, sungguh ingin pulang," katanya.


(dir/ern)