DetikNews
Kamis 18 Oktober 2018, 16:49 WIB

Hikayat Dirman Keluar Kurungan dan Kado Hari Kesehatan Jiwa

Syahdan Alamsyah - detikNews
Hikayat Dirman Keluar Kurungan dan Kado Hari Kesehatan Jiwa Dirman lima tahun dikurung dalam kandang. (Foto: Dokumentasi Panti Aura Welas Asih)
Sukabumi - Panti Sosial Aura Welas Asih (PS AWA) berhasil membebaskan Dirman (36) setelah lima tahun menghuni ruangan bambu mirip kandang. Perjuangan relawan selama ini berujung manis. Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) tersebut akhirnya menikmati udara bebas dan mendapat perlakuan layak dari pemerintah.

Penolakan keluarga dengan alasan kasihan dihadapi relawan sosial dengan penuh kesabaran. Pertemuan rutin dan pemahaman tentang kemanusiaan akhirnya mencerahkan suami-istri, Sahuni (70) dan Oyot (60), yang merupakan orang tua Dirman.

"Kami tidak menyerah. Satu tahun terakhir ini kami rutin berkunjung serta membawa obat-obatan dan makanan. Semangat bebas pasung menggema menjadi motivasi kami agar Dirman dapat menjalani pengobatan dan kehidupan yang layak," kata Deni Solang, pengelola PS AWA, kepada detikcom, Kamis (18/10/2018).


Dibantu PSBL Phalamarta, Puskesmas, aparat desa dan pihak lainnya, Dirman dikeluarkan dari kurungan seperti kandang domba. "Kami menganggap pembebasan Dirman ialah kado terindah untuk hari kesehatan jiwa yang jatuh tanggal 10 Oktober kemarin. Meski kami relawan serba terbatas, namun tidak menyurutkan semangat beraksi sosial," ucap Deni.

Hikayat Dirman Keluar Kurungan dan Kado Hari Kesehatan JiwaSejumlah orang membebaskan Dirman (36) yang lima tahun menghuni ruangan bambu mirip kandang. (Foto: Dokumentasi Panti Aura Welas Asih)
Serba terbatas itu, Deni menjelaskan, terkait berbagai persoalan yang mendera panti miliknya, mulai dari ketidakjelasan tempat hingga persoalan keuangan yang menggerogoti panti. Satu persatu masalah itu akhirnya terurai, lokasi panti bakal disediakan Pemkab Sukabumi.

"Banyak dermawan yang menyemangati kami untuk tidak menyerah, kendaraan ambulans pun merupakan sumbangan hasil penggalangan dana dari masyarakat yang memperhatikan pergerakan kami," ujarnya.

"Saat ini, kami hanya tinggal bergerak agar istilah bebas pasung tidak hanya sekedar slogan. Dirman hanya satu dari sekian banyak kasus serupa, semangat bebas pasung bukan hanya ada di relawan di lapangan saja, tetapi juga ada di birokrasi dan layanan Publik lainnya seperti Puskesmas dn Rumah sakit, karena itu adalah bagian dari mata rantai program bebas pasung," tutur Deni menambahkan.


(sya/bbn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed