Bappelitbang: 10 Kecamatan di Kota Bandung Rawan Likuifaksi

Tri Ispranoto - detikNews
Kamis, 11 Okt 2018 13:38 WIB
Foto: Tri Ispranoto
Bandung - Kota Bandung rupanya tidak hanya dihantui oleh ancaman musibah yang disebabkan pergerakan patahan Lembang. Fenomena pencairan tanah atau likuifaksi juga turut menjadi ancaman saat terjadi gempa besar.

Kasubid 1 Perencanaan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Bappelitbang Kota Bandung Andry Heru Santoso mengatakan 10 kecamatan di Kota Bandung berpotensi besar terjadi likuifaksi jika gempa terjadi.

"Itu terjadi karena tanah tidak bisa membendung kekuatan tadi (gempa bumi). Likuifaksi seperti di Petobo, Palu bisa terjadi. Sebagian besar 10 kecamatan itu berada di Bandung selatan dan timur," ujar Andry kepada wartawan di Bandung Menjawab, Kamis (10/10/2018).



Sepuluh kecamatan tersebut adalah Bandung Kulon, Babakan Ciparay, Bojongloa Kaler, Bojongloa Kidul, Astanaanyar, Regol, Lengkong, Bandung Kidul, Kiaracondong dan Antapani.

10 Kecamatan di Kota Bandung Rawan Likuifaksi Seperti di PaluFoto: Tri Ispranoto


Menurut Andry hal tersebut merupakan hasil penelitian antara Pemkot Bandung, ITB dan United Nation yang dilakukan pada tahun 1990-2000. Sehingga perlu dilakukan penelitian ulang untuk memperbaharui penelitian tersebut.

"Kita perlu update lagi untuk mengetahui apakah tetap 10 (kecamatan) atau ada penambahan dan pengurangan," katanya.



Andry mengatakan penelitian tersebut tidak bermaksud untuk menakuti warga. Namun penelitian tersebut adalah bagian dari antisipasi karena musibah tidak bisa diramalkan kapan akan terjadi.

Sehingga, kata Andry, dengan penelitian tersebut warga bisa semakin waspada dengan melakukan serangkaian pencegahan dan penanggulangan jika musibah tersebut terjadi.

Masifnya pengambilan air tanah menyebabkan cadangan air semakin menipis. Hal itu juga berdampak pada penurunan tanah seperti di kawasan pabrik garmen seperti di kawasan Kopo dan perbatasan Kota Cimahi.

"Fenomena itu bisa terjadi karena perkembangan Bandung yang pesat. Banyak pembangunan vertical, kawasan padat penduduk. Artinya perlu penanganan bencana agar bisa diminimalisir dampaknya," ujar Andry.



Sementara sebelumnya peneliti dari LIPI Adrin Tohari mengatakan Cekungan Bandung didominasi tanah lengkung bukan tanah pasir yang mudah terjadi likuifaksi. "Likuifaksi itu berada di tanah pasir. Kalau tanah lengkung potensinya tidak ada," katanya.

Alih-alih mengalami likuifaksi, kata dia, wilayah Cekungan Bandung justru berpotensi mengalami amplifikasi. Artinya getaran yang terjadi dampak gempa akan lebih besar dirasakan di permukaan karena didominasi lapisan tanah lengkung.

"Jadi kalau tanah lengkung kena guncangan dia akan memperkuat (getaran). Jadi kalau likuifaksi itu bangunan tidak akan rusak strukturnya tapi dia turun ambles. Tapi kalau karena guncangan (amplifikasi) struktur atau dinding bangunan akan kolaps jadi runtuh," tuturnya.


(tro/ern)