DetikNews
Rabu 19 September 2018, 15:26 WIB

Waspada, Penipuan Properti Syariah di Bandung

Mukhlis Dinillah - detikNews
Waspada, Penipuan Properti Syariah di Bandung Kuasa hukum para korban Yun Ermanto /Foto: Istimewa
Bandung - Kasus dugaan penipuan berkedok properti syariah muncul di Kota Bandung. Dua tersangka kini sudah menjalani sidang di Pengadilan Negeri Bandung. Kerugian ratusan korban mencapai Rp 11,4 miliar.

Menurut kuasa hukum para korban, Yun Ermanto, sedikitnya ada 135 orang yang menjadi korban penipuan properti syariah yang berada di kawasan Sindanglaya dan Cikadut Bandung.

Kedua properti tersebut dikelola Syna Group yang merupakan kelompok usaha terdiri dari tiga perusahaan, yaitu PT Anairis Putri Cahaya, PT Jaka Tingkir Abadi, dan PT Bandung International Property.

Kasus ini sebenarnya sudah bergulir sejak tahun 2016. Saat itu konsumen melaporkan mandegnya pembangunan properti di Syna Sindanglaya kepada polisi, namun tak kunjung diproses.

Pada Juli 2017, Syna Group malah kembali mempromosikan penjualan perumahan Syna Cikadut. Proyek Syna Cikadut, lebih dari 60 konsumen terjebak rayuan murahnya harga rumah yang dibanderol dengan Rp100 juta. Selain harga rumah yang murah, konsumen bisa mencicil rumah tanpa melalui bank. Mereka klaim, ini properti syariah, tanpa riba.

Konsumen yang merasa tertipu dengan tak kunjung dilakukan pembangunan di dua lokasi tersebut marah. Mereka ramai-ramai mencari CEO Syna Group Iwan Cica Erlangga yang sudah tak dapat dihubungi.

"Akhirnya, konsumen didampingi aparat setempat, menangkap Iwan di Tasikmalaya saat ia akan kembali membangun proyek perumahan yang diduga bodong di sana," kata kuasa hukum para korban Yun Ermanto kepada detikcom, Rabu (19/9/2018).

Tidak hanya menangkap Iwan, para korban juga melaporkan Wildan Amarul Husna sebagai Direktur Utama PT Anairis Putri Cahaya dan Kartini selaku Direktur Keuangan ke polisi. Tak lama berselang Maret 2018 konsumen menemukan Wildan dan diserahkan ke Polrestabes Bandung.

Konsumen membuat laporan baru tanggal 29 Agustus 2018 untuk melaporkan Direktur Keuangan PT Anairis Putri Cahaya Ajeng Kartini yang belum tertangkap hingga kini. Kartini diduga mengetahui ke mana aliran dana Syna Group.

"Ini penting karena menurut polisi rekening Syna Grup kosong. Ini kan dana konsumen larinya kemana. Jadi harus ditangkap karena bisa saja mereka kena pasal TPPU," ungkap dia.

Iwan dan Wildan yang mendekam di tahanan Polrestabes Bandung sejak Maret 2018 sudah menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Negeri Bandung. Keduanya didakwa pasal 378 dan 372 KUHPidan tentang penipuan dan penggelapan.

Dihubungi terpisah, Kapolrestabes Bandung Kombes Irman Sugema mengatakan akan mendalami kasus tersebut."Ya sedang kami dalami," singkat Irman.



Tonton juga 'Hati-hati Penipuan, Kenali Ciri Petugas Resmi Haji Indonesia':

[Gambas:Video 20detik]


(mud/ern)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed