Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jawa Barat Dewi Sartika mengungkapkan, berbagai masalah tersebut membuat biaya produksi ditingkat peternak tinggi. Kondisi itu tentu berdampak juga terhadap harga jual daging dan telur di pasaran.
Untuk daging ayam misalnya, stok ayam panen minggu ini merupakan hasil produksi sebelum Lebaran. Saat itu harga doc (day old chick) tinggi dan membebani biaya produksi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian naiknya nilai tukar dolar Amerika terhadap rupiah yang juga mempengaruhi harga pakan. Kondisi cuaca yang terasa dingin belakangan ini juga turut meningkatkan biaya produksi di tingkat peternak.
"Terus sekarang ada yang baru soal larangan AGP (antibiotic growth promoter). Sekarang dia (AGP atau antibiotik) tidak boleh di makan dan ternyata sampai saat ini belum ada penggantinya. Itu sudah membuat tambahan-tambahan biaya (produksi)," ujarnya.
Naiknya harga telur juga dipengaruhi oleh tingginya biaya produksi di tingkat peternak. Selain itu, Jawa Barat bukan merupakan daerah penghasil telur. Sebagian besar dipasok dari Blitar, Jawa Timur dan daerah lainnya.
"Nah dari sananya (daerah produksi) sudah mahal. Angkanya sudah 25 ribu rupiah per kilogram, masuk ke kita 28 ribu rupiah," kata Dewi.
Dewi menambahkan saat ini berbagai langkah terus dilakukan demi menekan harga daging ayam dan telur di pasaran. Menteri Perdagangan juga, menurut dia, telah mengumpulkan semua pihak untuk membahas masalah ini.
Harga daging ayam ras dan telur ayam di Kota Bandung terus merangkak naik. Di Pasar Kosambi Bandung, harga daging ayam menembus Rp 44 ribu per kilogram dan telur ayam Rp 28 ribu per kilogram. (mso/bbn)











































