DetikNews
Minggu 17 Juni 2018, 23:07 WIB

Balawista Sukabumi, Bekerja 'Sajuta' Meski Pertaruhkan Nyawa

Syahdan Alamsyah - detikNews
Balawista Sukabumi, Bekerja Sajuta Meski Pertaruhkan Nyawa Pantai Palabuhanratu Sukabumi. (Foto: Syahdan Alamsyah/detikcom)
Sukabumi - Badan Penyelamatan Wisata Tirta (Balawista) Geopark Ciletuh-Palabuhanratu Sukabumi, Jawa Barat, menjadi salah satu unsur pemandu keselamatan penting selain Basarnas, Polri, Sarda dan unsur SAR lainnya. Tugas mereka bersentuhan langsung dengan keselamatan pengunjung.

Selama ini, ternyata personel Balawista kesehariannya bekerja 'sajuta', yang merupakan singkatan plesetan dari sabar, jujur dan tawakal. Padahal tugas mereka mempertaruhkan nyawa.


Mungkin tidak banyak yang tahu, sebanyak 107 anggotanya yang tersebar di Pos Pantau dari ujung Cisolok hingga Pajampangan cuma diberi uang operasional sebesar Rp 85 ribu. Dana operasional tersebut digunakan untuk belasan hari kerja, meski sebenarnya tidak ada patokan hari untuk anggota Balawista terjun di lapangan.

"Kalau merunut pada Operasi Ketupat Lodaya hasil koordinasi dengan kepolisian, berarti uang operasional sebesar 85 ribu rupiah itu untuk dibagi 14 hari," kata Ketua Harian Balawista Yanyan kepada detikcom, Minggu (17/6/2018).

Balawista Sukabumi, Bekerja 'Sajuta' Meski Pertaruhkan NyawaPersonel Balawista Sukabumi. (Foto: Syahdan Alamsyah/detikcom)
Namun, sambung dia, hitungan hari itu sangat kecil, karena bagi Balawista ketika ada wisatawan di pantai, secara otomatis mereka memantau. "Bisa 20 hari kerja, bahkan bisa lebih. Dengan nominal sebesar itu, saya anggap tidak manusiawi," ucap Yanyan.

Menurut Yanyan, istilah 'sajuta' sudah menjadi keseharian relawan yang bergabung dalam Balawista. Perhatian minim sudah menjadi hal biasa.


Bagi mereka, berhasil menyelamatkan korban terseret arus di pantai ialah suatu kebanggan. "Kami tidak ngeluh, hanya berharap pemangku kebijakan berpikir bagaimana agar kami bisa lebih produktif dalam bergerak. Bagaimana agar kami mendapat pengakuan menjadi bagian dari unsur keselamatan wisata air, jangan salah di daerah lain Balawista menjadi salah satu penunjang penting unsur wisata air," tutur Yanyan.

Dia menjelaskan, solusi sebenarnya ada, tinggal unsur terkait mau atau tidak menjalankannya. Salah satu contohnya, kata Yanyan, perlu pembuatan Satgas.

"Posisi kita berada di dinas misalnya, enggak masalah kalau nanti ketuanya dari pemerintah daerah. Jadi tidak perlu lagi kita diberi operasional. Misalkan, oh menara pemantau sudah kusam kemudian dicat dibuat bagus anggarannya di dinas ada. Itu kan solusi, sebenarnya wacana pembuatan satgas itu sudah ada, hanya tinggal menunggu diaktifkan," ujarnya.


Saat pembahasan Geopark Ciletuh Palabuhanratu, Balawista merasa tidak pernah dilibatkan. Padahal, menurut Yanyan, kalau saja Balawista menarik diri, bisa saja menjadi penilaian jelek bagi wacana geopark waktu itu.

"Sekali lagi kami sadar diri, ada potensi besar dibalik rencana Geopark Ciletuh Palabuhanratu saat itu. Kami mendukung-mendukung saja demi peningkatan sektor pariwisata Kabupaten Sukabumi," katanya.

"Satu-satunya yang menjadi fokus kami saat ini ialah bagaimana melakukan penyelamatan kepada pengunjung dan bagaimana kami mengimbau pengunjung lebih berhati-hati ketika berwisata," ucap Yanyan.

Data diperoleh detikcom, hingga hari ini yang bertepatan momen libur Lebaran 2018, tercatat 23 aksi penyelamatan dengan hitungan 22 selamat dan 1 orang meninggal dunia di Pantai Palabuhanratu.

"Hari ini nambah lima orang. Kemarin 18 orang, satu orang meninggal. Pastinya kerja keras kami bersama unsur lainnya," ucap Yanyan.
(bbn/bbn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed