Massa Tuntut Rektor Unpad Mundur

Mochamad Solehudin - detikNews
Rabu, 02 Mei 2018 12:14 WIB
Foto: Mochamad Solehudin
Bandung - Sejumlah massa yang menamakan diri Gelora Aksi Masyarakat Unpad menggelar aksi unjuk rasa di Kampus Unpad, Jalan Dipatiukur, Kota Bandung, Rabu (2/5/2018). Dalam aksinya mereka menuntut Rektor Unpad Tri Hanggono Ahmad untuk mundur.

Massa yang mengklaim terdiri dari mahasiswa, dosen dan petugas kebersihan itu menilai Tri Hanggono Ahmad gagal memimpin Unpad. Berbagai masalah muncul, mulai dari kebijakan rektor yang dianggap terlalu sentralistis dan tidak demokratis.

Selain itu, kesejahteraan tenaga kebersihan dan ketidaknyamanan manajemen fakultas dan dosen. Petugas kebersihan hanya dibayar Rp750 ribu per bulan. Padahal UMK Kabupaten Sumedang sebesar Rp2.463.461.

"Upah K3L Unpad juga tidak mencapai upah minimum provinsi Rp1.300.000 bahkan tidak mencapai standar kebutuhan hidup layak (KHL) Kabupaten Sumedang Rp1.924.585," kata Lutfi Indriawan, negosiator aksi yang merupakan mahasiswa Administrasi Publik 2015, di sela aksinya.

Foto: Mochamad Solehudin

Lutfi juga menyebut salah satu kekecewaan yang muncul hadirnya anggota Brimob di Kampus Unpad Jatinangor. Kahadiran aparat Brimob itu dampak dari pengurangan petugas keamanan di Unpad.

Padahal, lanjutnya, kehadiran Brimob tidak memberi dampak positif. Salah satu contohnya aksi kriminalitas di kampus Unpad Jatinangor tetap terjadi. Selain itu, tambahnya kehadiran Brimob di lingkungan kampus tidak dibenarkan

"Salah satu masalah lagi, Brimob ini ada pengurangan personel keamanan. Tapi tetap saja tidak aman. Contoh di Fakultas Peternakan ada empat motor hilang. Kehadiran Brimob mengancam demokrasi. Seperti kemarin ada aksi, terus Brimob nyamperin nanya berbagai hal. Padahal itu dalam wilayah kampus," ujarnya.

Melihat semua itu, pihaknya menuntut agar Tri Hanggono Ahmad turun sebagai Rektor Unpad. "Dampaknya Unpad tidak ada peningkatan. Kita sudah berkali-kali ingatkan rektor. Sekarang kita minta rektor turun," tandasnya.

Aksi ini dijaga oleh sejumlah polisi. Pintu gerbang ditutup. Massa hanya berorasi di depan gerbang.

Foto: Mochamad Solehudin
(ern/ern)