DetikNews
Minggu 22 April 2018, 12:13 WIB

Hari Bumi, Penggiat Lingkungan Soroti Kerusakan Hutan Pangrango

Syahdan Alamsyah - detikNews
Hari Bumi, Penggiat Lingkungan Soroti Kerusakan Hutan Pangrango Ketua Yayasan Surya Kadaka Indonesia (SKI) Sabang Sirait. (Foto: dok.detikcom).
Cianjur - Penggiat lingkungan menyoroti kerusakan hutan di area Gunung Masigit Cianjur yang masuk kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Kerusakan hutan itu diduga menjadi pemicu bencana banjir yang melanda di sejumlah titik Cianjur.

Hal ini diungkapkan Ketua Yayasan Surya Kadaka Indonesia (SKI) Sabang Sirait kepada detikcom, Minggu (22/4/2018). Dia menegaskan pada peringatan Hari Bumi yang jatuh pada hari ini harusnya ada gerakan penanganan kerusakan hutan.

"Kasus ini sebetulnya mencuat ketika kasus Didin 'sonari' mencuat kepermukaan. Saat itu banyak pihak yang kaget dengan temuan kami tentang adanya kerusakan lahan puluhan hektare di zona inti TNGGP. Sekarang pada Hari Bumi tidak ada gerakan nyata dari pihak yang seharusnya bergerak melakukan rehabilitasi," ujar Sabang di Posko Yayasan SKI, Cibodas, Kabupaten Cianjur.

Baca juga: Kasus Didin Disinyalir Pengalihan Kasus Kerusakan Lingkungan di Pangrango

Baca juga: Divonis 2 Bulan 21 Hari, Begini Kini Kasus Didin Pencari Cacing

Sabang menjelaskan kasus Didin telah berakhir. Tuduhan dan tuntutan Didin sebagai pelaku perusakan hutan tidak terbukti. Dia menyesalkan selesainya kasus itu tidak berbuah pada upaya rehabilitasi zona inti yang saat ini masih rusak.

"Makanya jangan heran kalau sungai-sungai di Cianjur meluap. Ya karena fungsi hutan sebagai penahan resapan air sudah tidak berfungsi dengan baik, ada dua hulu sungai utama yaitu Sarongge dan Cikundul," ujarnya.

Sabang menyebutkan kerusakan parah terjadi di kawasan Gunung Masigit. Saat itu, menurut dia, pihak Balai Besar TNGGP menganggap kerusakan itu akibat ulah Didin yang mencari cacing kalung atau sonari.

"Kerusakan itu akibat pencari cacing kalung, ukurannya besar-besar dan hidup di bawah tanah. Cacing itu panjangnya antara 80 sentimeter sampai 1 meter, para pemburu ini menggali agar cacing tidak putus. Nah penggalian inilah yang bermasalah dan merusak lingkungan," tutur Sabang.

Baca juga: Melongok Aktivitas Didin Si Pencari Cacing Setelah Keluar Tahanan

Selain menggali tanah di area zona inti, para pemburu dianggap telah merusak batang dan ranting pohon. Ranting itu digunakan sebagai suluh perapian.

"Mereka buat bedeng-bedeng, bermukim selama tiga hari. Agar cacing tidak busuk mereka asapi, bahan bakarnya dari batang pohon di area hutan," ucapnya.

Sabang berharap pihak Balai TNGGP segera melakukan penghijauan di zona inti. "Oke masalah pencegahan oleh pihak balai bobol, sekarang mereka harusnya segera melakukan penghijauan kembali hutan yang rusak," kata Sabang.

Berkaitan hal tersebut, detikcom sudah berupaya konfirmasi via telepon, SMS dan aplikasi perpesanan kepada Kepala Balai Besar TNGGP Wahyu Rudianto. Namun hingga siang ini Wahyu belum merespons.

(bbn/bbn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed