detikNews
Kamis 22 Maret 2018, 13:26 WIB

Cerita Napi Ngamuk dan Wartel Mahal di Lapas Cirebon

Sudirman Wamad - detikNews
Cerita Napi Ngamuk dan Wartel Mahal di Lapas Cirebon Lapas Cirebon. (Foto: Sudirman Wamad/detikcom)
Cirebon - Petugas lapas rutin melakukan razia alat komunikasi milik narapidana menjadi pemicu kericuhan yang terjadi di Lapas Kelas I Cirebon. Hampir setiap hari petugas lapas melakukan razia alat komunikasi.

Pada Rabu (21/3) kemarin, menjadi puncak luapan amarah para narapidana di Lapas Kelas I Cirebon. Napi mengamuk dan menyerang petugas lapas, dengan cara melempar batu.


Beruntung tak ada korban jiwa. Empat kamera CCTV menjadi korban amukan para narapidana. Ratusan personel gabungan dari polisi-TNI diterjunkan untuk meredam situasi tersebut. Situasi kembali kondusif. Kebijakan-kebijakan baru dikeluarkan lapas, tujuannya untuk meredam emosi dan mengantisipasi agar tak lagi terjadi kericuhan.

Lapas Kelas I Cirebon bakal mengurangi intensitas razia. Semula hampir setiap hari, kini mulai diubah menjadi empat sampai enam kali dalam satu bulan. Kemudahan komunikasi ditawarkan bagi narapidana. Adanya penyelundupan alat komunikasi atau ponsel di dalam lapas, diakui pihak lapas karena minimnya wartel khusus bagi narapidana.

Napi Ngamuk, Wartel Mahal dan Selundup Ponsel di Lapas CirebonKalapas Kelas I Cirebon Heni Yuwono (Foto: Sudirman Wamad/detikcom)
Rencananya, wartel khusus ditambah di setiap bloknya. "Saat ini hanya satu wartel khusus di setiap blok. Kita nanti sediakan kartu khusus. Dan, bekerja sama dengan provider yang harganya terjangkau. Selama ini kan napi mengeluh karena mahal, makanya masih ada yang menyelundupkan handphone," ucap Kalapas Kelas I Cirebon Heni Yuwono kepada detikcom saat ditemui di Lapas Kelas I Cirebon, Kamis (22/3/2018).


Masih adanya aksi penyelundupan ponsel atau telepon genggam menjadi salah satu faktor yang membuat lapas rutin melakukan razia. Heni mengatakan pihaknya melakukan razia ketika mendapat informasi tentang adanya penyelundupan alat komunikasi.

Saat ditanya mengenai modus penyelundupan alat komunikasi, Heni mengatakan sebagian besar alat komunikasi yang dimiliki narapidana Lapas Kelas I Cirebon hasil penyelundupan dengan cara dilempar melewati pagar lapas.

"Sekarang kita perkuat di pos pemantaunya, dulu hanya satu petugas sekarang menjadi tiga petugas di masing-masing pos pemantau," kata Heni.

Napi Ngamuk, Wartel Mahal dan Selundup Ponsel di Lapas CirebonPosko Lapas Cirebon. (Foto: Sudirman Wamad/detikcom)
Aksi penyelundupan alat komunikasi itu, menurut Heni, kerap terjadi pada siang bolong. "Kemarin itu kita dapat kabar usai salat Zuhur. Memang usia salat napi itu wajib masuk kamar, di luar itu sepi. Makanya rawan dimanfaatkan," kata Heni.

Tak hanya menambah petugas pemantau, Heni menutup sejumlah akses jalan umum agar memudahkan pemantauan. Pihaknya memperketat sejumlah pos penjagaan di sejumlah titik. Sebanyak 43 petugas dikerahkan untuk menjaga pos. Selain itu, sedikitnya 10 polisi dilibatkan untuk mengamankan pasca kericuhan di lapas.

"Biasanya kita terjunkan sepuluh petugas. kalau situasi sudah kondusif, seperti biasanya. Cuma kita menambah petugas pengamanan saja," ucap Heni.


(bbn/bbn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com